Saturday, October 06, 2007

Frankly Speaking in Area Magazine ed.97/October '07 (about Halloween)

HALO RASA TAKUT, HALO "HALLOWEEN"

Kayaknya ada apa ndak Halloween atau pesta hantu lainnya lagi, setiap orang perlu rasa takut deh. Jadi selain perlu sembilan bahan kebutuhan pokok alias sembako, perlu cita-cita, perlu pulsa, orang hidup juga perlu deg-degan.

Punya duit banyak? Terbang jauh ke Afrika. Menyelamlah dengan ikan-ikan hiu bersama wisatawan dunia. Tanpa duit melimpah perjumpaan dengan ketakutan dapat dilakukan pula. Gratis pun bahkan dapat.

Di komedi putar pasar malam keliling di kampung-kampung, biasanya juga ada bilik hantunya. Ya nggak setipe hantu Goblin dalam Halloween. Tapi wujudnya aneh. Orang sudah bisa takut melihat wajah-wajah yang mengerikan itu tanpa duit sebanyak buat gathering dengan para hiu.

Tak punya uang sama sekali, tinggal nongkrong di beberapa ruas jalan umum. Terutama malem Minggu. Banyaklah di situ balapan sepeda motor yang bikin merinding.

Soal yang mau dibikin ngeri itu obyeknya apa dan warnanya bagaimana, tinggal soal kehumasan. Hitam dan oranye yang dianggap sebagai warna tradisional Halloween, dengan kehumasan toh sekarang kadang jadi ungu, hijau atau merah.

Kok persis kasus kolesterol ya?

Sebagai “hantu”, beberapa dokter bilang kolesterol jauh lebih mengerikan ketimbang nikotin. Nikotin cuma bikin “pipa” darah ndak luwes dan ndak lentur. Jadi riskan kalau kegencet atau ketekuk. Kolesterol? Wah ini bikin “pipa” darah menyempit. Lama-lama tersumbat.

Tapi kehumasan telah membuatnya lain. Gencarnya kampanye anti-rokok dan stiker peringatan terhadap perokok, telah membuat “hantu” nikotin tampil jauh lebih mengerikan ketimbang “hantu” kolesterol.

Mungkin orang sebenarnya sudah tahu semua soal itu. Mereka cuma nggak mau capek aja kalau harus masang stiker anti-kolesterol. Bayangkan tiap udang, kambing, dan lain-lain termasuk pohon kelapa harus ditempel itu. Rumah-rumah makan Padang juga (sembari nempel “awas kencing manis” buat warung-warung Jawa).

Sekarang orang-orangan sawah buat pengusir burung bagi saya tidak menakutkan. Masih lebih menakutkan jaelangkung. Lama-lama, kalau pesta Halloween yang antara lain berakar dari tradisi panen di Irlandia kian merebak di Nusantara, orang-orangan sawah bisa mengerikan.

Untungnya yang lebih kerap dipakai sebagai simbol Halloween sekarang labu. Bukan orang-orangan sawah. Mungkin lama-lama labu akan tampil lebih horor ketimbang batok kelapa yang kerap jadi kepala jaelangkung.

Saya sih lebih merindukan kehumasan atau kampanye yang begini, agak klise, tapi tetap aktual: Yang perlu kita takuti bukan hantu Halloween atau hantu apa pun. Yang perlu kita takuti adalah ketakutan itu sendiri.

Makanya topeng Halloween mestinya bukan topeng yang bikin orang takut. Tapi topeng yang ekspresinya ketakutan sendiri. Harapannya, yang nonton topeng itu takut pada ketakutan.

Spirit ular bisa dicontoh. Menurut banyak pawang ular, binatang itu amat sibuk dengan ketakutannya pada manusia. Mereka menyerang justru pada puncak ketakutan. Tapi akting dan mimiknya kok menakutkan ya?

Mungkin para pembuat topeng bisa bikin modifikasi sehingga ekspresi wajah ular yang dikreasikan lebih sesuai dengan isi hati ular itu sendiri.

Ya. Kita perlu takut pada ketakutan. Artinya kita perlu berani. Masa depan kian butuh keberanian. Karena kepandaian, kekayaan, kekuasaan, semuanya mati kutu berhadapan dengan keberanian.

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan - www.sujiwotejo.com

*telah diterbitkan di area Magazine, edisi 97, Oktober 2007

2 comments:

Dimana Matahari-ku said...

Beautiful writing. Very deep

raka ashvagosha said...

Keren pak, ,