Saturday, October 20, 2007

Article No.58 in Sindo Daily (about Short Message Service (SMS) at Ied Mubarak)

LEBARAN TIBA, MARHABAN ya SMS yang ANEH-ANEH

Ubud termasuk yang menarik perhatian saya. Banyak studio-studio lukisan mini di sana. Seperti di Pasar Seni Ancol. Pelukisnya macam-macam. Dari berbagai daerah di Indonesia. Nongkrong di kios-kios itu, sambil ngobrol suka-duka ama pelukisnya, jadi keasyikan tersendiri.

Alamnya juga elok. Sungai-sungai. Sesawahan dan burung bangau. Jalan-jalan pagi di antara semua itu, dan langit Bali, termasuk keasyikan juga. Saya kerap memergoki orang-orang Jakarta jalan pagi sambil senam di tengah suasana itu. Termasuk sutradara Mas Slamet Rahardjo.

Sayangnya saya bawa handphone. Mestinya saya tidak usah bawa alat komunikasi itu apalagi pas Lebaran. Tapi akhirnya saya mesti bawa handphone, untuk komunikasi job-job paska Lebaran. Ya betul terjadilah: Suasana Ubud di kepala dan batin saya agak diganggu oleh SMS-SMS Lebaran.

Mestinya saya tidak usah buka SMS-SMS itu. Tapi siapa tahu soal koordinasi job paska Lebaran. Ya saya buka. Hasilnya itu tadi: saya terganggu oleh SMS-SMS Lebaran yang, pertama, gak jelas siapa pengirimnya. Kedua, ndak jelas ditujukan pada siapa. Ketiga, isinya klise.

***

Soal pertama, gak jelas siapa pengirim SMS Lebaran. Ini sudah pernah saya singgung waktu Idul Fitri tahun lalu. Rupanya orang-orang itu menyangkal ke-bhineka-tunggal-ika-an kita.

Mereka anggap semua pemilik handphone punya memori nomor-nomor telepon orang di phonebook. Mereka sangka, tanpa menulis nama pada SMS Lebaran, nama itu akan dengan sendirinya muncul di layar monitor.

Ini keliru setidaknya untuk dua hal. Pertama, orang-orang itu mengira handphone orang tidak bisa rusak memorinya. Atau menganggap handphone orang tidak bisa kecopetan maupun hilang sehingga memori termasuk nama-nama di phonebook lenyap pula.

Bhineka Tunggal Ika kan tidak harus cuma berarti Indonesia punya banyak suku dan agama. Semboyan itu bisa juga berarti, orang Indonesia terdiri dari penduduk yang handphone-nya gak pernah ilang tapi juga penduduk yang sering kehilangan atau kerusakan hp.

Kekeliruan kedua, mereka menduga semua orang hp-nya canggih. Memorinya besar. Suka gonta-ganti hp sehingga memori makin besar-makin besar terus, termasuk buat menyimpan nama-nama kontak.

Saya hidup tak minimalis banget sih. Misalnya piring di rumah tidak pas banget ma kebutuhan buat makan keluarga. Ada lebihnya sedikit. Dan saya tidak termasuk yang beraliran haram memajang piring-piring sebagai hiasan di lemari, di luar kebutuhan pokok piring buat makan.

Tapi hp saya nyaris tidak pernah ganti. Bahkan kalau rusak pun, sepanjang masih bisa diperbaiki ya saya perbaiki. Pangkon baterei rusak misalnya, ya udah, baterei saya ikat di hp dengan karet gelang.

Saya juga merasa belum butuh-butuh banget hp yang bisa motret maupun hp yang bisa kirim gambar dan email. Saya sekarang cuma sedang butuh hp yang bisa SMS dan nelepon. Jadi buat apa saya gonta-ganti hp?

Singkat kata, hp saya kuno. Memori terbatas. Dan orang-orang seperti saya tidak sedikit ternyata. Pramono Anung, Sekjen PDI-P, hp-nya juga cuma satu dan kuno. Masih banyak yang lain. Dan kami tidak merasa melanggar hukum dengan cuma punya satu hp dan kuno.

Kami cuma minta pengertian dari berbagai pihak, bahwa Bhineka Tunggal Ika juga berarti “orang yang cuma punya satu hp dan kuno boleh jugalah dianggap sebagai bagian yang sah dari penduduk NKRI”. Maka kalau nulis SMS Lebaran, mbok ya pakai nama pengirim napa sih?

***

Sekelumit dari topik itu sudah saya bahas pada Idul Fitri tahun lalu. Kini soal nama yang dikirimi SMS. Karena rata-rata nggak pake nama yang dikirimi, permintaan maaf Lebaran jadinya tidak personal lagi.

Pada zaman kartu Lebaran, setidaknya nama yang dikirimi itu ada pada amplop, meski isi kartunya juga umum. Dan meski nama pada amplop itu tulisan mesin dan ditulis oleh sekretaris maupun orang lain, setidaknya di kartu ada tanda tangan pengirim. Ada sesuatu yang personal.

Mengherankan buat saya, sementara di berbagai bidang orang berlomba-lomba buat punya sentuhan personal, sentuhan pribadi, ternyata pada ungkapan permintaan maaf Lebaran yang mestinya personal, justru malah jadi impersonal.

Di Australia misalnya, ada dokter gigi yang tidak pake papan iklan praktek. Semua pasiennya adalah pelanggan. Semua pasiennya adalah orang-orang yang merasa akan diperlakukan khusus dan hanya mereka yang tahu bahwa tempat itu adalah tempat praktek gigi. Setiap pasien yang dateng akan disambut dengan minuman kesukaan mereka, yang sudah diketahui oleh resepsionis. Dan seterusnya.

Beberapa spa di Puncak tak cuma terima orang dateng. Sebagian dari mereka punya catatan “medis” setiap tamu. Mereka rajin menanyakan perkembangan kesehatan tamu via surat, sambil mengirimkan catatan “medis” mereka.

Salah satu manajemen SPBU di Bandung malah memasang stiker manajemen “Tegur karyawan kami, jika tidak mengawali sapaan sebelum mengisi bahan bakar.”

Tapi cuma segelintir banget lho, yang menyertakan nama tujuan pada SMS Lebaran. Di antaranya Mas Yudi Latif, Kepala Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Jakarta.

***

Yang terakhir soal isi SMS Lebaran, yang dipuitis-puitiskan. Mungkin pertanyaan saya, bukankah puisi itu sesungguhnya ungkapan jujur dari seseorang yang tak harus berbunga-bunga?

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan – http://www.sujiwotejo.com

*Dapatkan SMS berlangganan dari Dalang Edan Sujiwo Tejo tentang cara berbagai hal dipandang dari dunia pewayangan. Caranya, ketik reg pde1, kirim ke 9388, Tarif Rp 1.000/SMS. Apabila Anda ingin berhenti, ketik unreg pde1, kirim ke 9388

3 comments:

Teddy Hariadi said...

Dari artikel2 yang saya baca widgetbucks tidak akan konflik dengan adsense karena tampilannya sangat berbeda tidak seperti bidvertiser ataupun adbrite. Silahkan kunjungi blog berikut:
http://mywidgetbucks.blogspot.com
makasih.

jsop said...

Tulat tulit sibiji kemiri..
Kacang polong enak sekali..
ini bukan sembarang puisi..

maksudnya minal-minul.......ahh

"Selamat Hari Raya Lebaran" dan Maaf Lahir Bathin ya....

salam rindu ya pak dalang!

jsop

jsop said...

duwe blog nanging ora tau didhelok iki..pasti .

opo agek sibuk meh dadi menteri.. bek'e