Sunday, November 11, 2007

Article No.59 in Sindo Daily (about Rasa Sayange and Malaysia)

SAYA PUNYA SAHABAT di MALAYSIA

Saya punya sahabat perempuan di Malaysia. Kami kenal pertama dalam suatu pekan festival kesenian di Singapura. Rambutnya panjang. Kulitnya kuning langsat dan bersih. Dan ia ramah-tamah.

O ya, suka pakai kain Indonesia pula dia. Ketika kami jalan kaki di Orchad Road, melihat pakaian kami, termasuk kainnya yang diriap-riapkan angin seperti rambut panjangnya, banyak orang di jalanan yang menyapa dan menyangka kami dari Indonesia.

Sahabat perempuan saya ini tidak menyangkalnya. Saya pun tak ingin.

Dalam persahabatan, waktu itu seingat saya tak ada pikiran bahwa dia lain bangsa. Paling komunikasi kadang-kadang agak macet karena perbedaan pilihan kata. Misalnya, antara lain, ia bilang “ramai” untuk “banyak”.

Tapi kalau sekadar kegagapan model begitu, toh komunikasi dengan sesama bangsa sendiri juga sering terbata-bata lantaran perbedaan suku. Ada beberapa kata yang lain penerapannya atas sebab pengaruh tata bahasa setempat. Sopir-sopir taksi di Bali kalau mau omong “sebentar lagi (nyampe tujuan)” akan bilang “lagi sebentar”.

Kalau sampeyan nelepon orang Maluku, yang terima bilang orang tujuan sampeyan itu “ada”, juga jangan langsung seneng. Jangan langsung tanya, “mana?” Karena mungkin maksudnya ada itu hidup, tapi orangnya “ada pergi” alias sedang tak di tempat.

Bahkan buat sesama suku bangsa saja komunikasi kerap tersendat. Orang Jawa Solo misalnya, akan bilang “mari” untuk “sembuh” dari penyakit fisik. Orang Jawa Timur menggunakan “mari” untuk “rampung” atau “selesai”. Sembuh dari sakit fisik menurut mereka adalah “waras”. Tapi menurut orang Solo, “waras” berarti sembuh dari penyakit jiwa.

***

Dalam persahabatan, saya baru merasa dia itu agak lain sedikit dibanding sahabat-sahabat saya di Tanah Air, ketika untuk saling berkunjung saja ternyata kami memerlukan paspor. Ke sahabat-sahabat di Indonesia, saya tak memerlukan itu bahkan kadang tak problem kalau ketinggalan KTP.

Saya juga mengalami perasaan aneh sebagai berikut. Setiap ada kabar baik tentang Malaysia, saya sering inget kalau punya sahabat di sana.

Tengah bulan lalu saya dengar University Utara Malaysia bekerja sama dengan lima universitas di Indonesia. Keenam lembaga ini juga kerja bareng Exelcomindo di bidang telekomunikasi dan aerowisata di bidang perhotelan. Mahasiswa yang sedang belajar dapat melakukan prakteknya di kedua industri itu. Ketika itu saya ingat punya sahabat di Malaysia.

Tahun lalu saya dengar juga dari temen, orang Indonesia yang tinggal di sini tetapi lahir di Malaysia karena waktu itu bapaknya sedang bertugas mengajar matematika di sana, bahwa Malaysia terang-terangan mengaku berguru banyak pada orang Indonesia. Termasuk dalam cara membuat jalan tol. Ketika itu saya juga ingat punya sahabat di Malaysia.

Ketika Malaysia waktu zaman Mahatir Mohammad bikin cikal bakal tiga bangunan, Menara Petronas, Bandara KL, dan Sirkuit Sepang, saya ingat bahwa punya sahabat di Malaysia. Lebih-lebih inget ketika bangunan-bangunan yang belum populer itu udah rampung. Tambah inget lagi ketika pihak kehumasan Malaysia berusaha keras agar bintang Hollywood Sean Connery dan Catherine Zeta-Jones shooting film Entrapment di situ sehingga bangunan-bangunan tadi dikenal dunia.

***

Tapi biasanya saya lupa bahwa saya punya sahabat di Malaysia, kalau terdengar berita nggak enak tentang negeri itu. Terutama nggak enak dalam hubungannya dengan Indonesia.

Waktu mengemuka kasus rebutan kawasan dengan Indonesia, misalnya Sipadan, Ligitan dan Ambalat, saya lupa bahwa saya punya sahabat di sana. Begitu juga waktu menyeruak kabar-kabar soal penyiksaan TKI di Malaysia, penganiayaan insan perkaratean dari Indonesia, dan lain-lain. Termasuk ketika ada ribut-ribut kabar bahwa pencurian kayu terutama di Kalimantan dan Papua disokong oleh cukong-cukong Malaysia.

Dan ini, yang terakhir, Rasa Sayange dijadikan lagu latar kampanye pariwisata Malaysia.

Mungkin karena saya kesel tapi nggak tahu musti bilang apa, seperti kekeselan Jhonavid, pemain drum White Shoes and The Couples Company ketika diwawancara buat tulisan ini. Mungkin karena dalam kasus Rasa Sayange ini saya terlalu sibuk mikir keharusan kita buat lebih hati-hati di masa depan, seperti sikap komponis Addie MS dan Miss Indonesia 2006 Nadine Chandrawinata ketika diwawancara untuk maksud serupa.

Kesel dan pikiran ke depan bikin orang lupa yang lain-lain saat ini. Makanya saya lupa punya sahabat di Malaysia.

Atau mungkin karena sahabat saya cuma satu di sana. Tapi para pejabat mustahil cuma punya satu sahabat di sana. Mereka sebagian naik melalui jenjang karir, terutama yang di Departemen Luar Negeri. Sepanjang jenjang kenaikan jabatannya itu mereka pasti banyak punya kenalan dan sahabat di Malaysia.

Apakah cekcok ini tidak mungkin dirampungkan dengan dan dalam situasi persahabatan?

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan – http://www.sujiwotejo.com

*Dapatkan SMS berlangganan dari Dalang Edan Sujiwo Tejo tentang cara berbagai hal dipandang dari dunia pewayangan. Caranya, ketik reg pde1, kirim ke 9388, Tarif Rp 1.000/SMS. Apabila Anda ingin berhenti, ketik unreg pde1, kirim ke 9388

6 comments:

Haryo Bagus Handoko said...

Nuwun sewu, badhe numpang promosi buku kulo....

Sinopsis buku tanaman hias terbaru – “Pachypodium”, terbitan Gramedia Pustaka Utama

Judul buku: Pachypodium - Panduan Lengkap Merawat dan Membudidayakan Pachypodium Anda agar Tumbuh Prima
Jumlah halaman: 126 halaman
Pengarang: Haryo Bagus Handoko
*) Penulis adalah juga pengurus komunitas penulis Forum Penulis Kota Malang (http://www.fpkm.org)
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Agustus 2008
Profil buku: http://pachypodium-indonesia.blogspot.com/

Bisa dibeli di toko-toko buku terdekat di kota Anda.
Available in http://www.gramedia.com & http://togamas.co.id
Beli secara online di :
http://www.gramedia.com/buku_detail.asp?id=IHEO4253&kat=3

Pachypodium Tanaman Purba yang Langka nan Eksotis

Tanaman hias Pachypodium sebenarnya pernah populer di Indonesia sekitar era tahun 1990-an. Namun entah mengapa baru pada awal tahun 2007 minat terhadap tanaman ini kembali marak. Padahal di luar negeri, sudah lebih dari seratus tahun, para peneliti maupun para hobiis dan kolektor tanaman langka memburu dan mengkoleksi tanaman yang terancam punah ini. Pachypodium yang konon dipercaya sudah hidup sejak jutaan tahun lalu sebelum era jaman kapur, merupakan tanaman yang secara fleksibel terus berevolusi dan menyesuaikan diri terhadap habitat di mana ia tumbuh. Sisa tanaman purba yang tetap bisa bertahan hidup dan lestari hingga sekarang ini telah menarik minat para peneliti maupun para kolektor tanaman langka sejak akhir abad ke-18. Spesies-spesies baru Pachypodium terus bermunculan, karena evolusi yang terjadi pada tanaman ini terus melahirkan spesies-spesies maupun hibrida-hibrida baru, tidak hanya di habitat aslinya di Madagaskar, namun juga di berbagai belahan benua di mana tanaman ini dapat tumbuh dan berevolusi. Konon masih ratusan spesies tanaman Pachypodium yang belum teridentifikasi maupun terklasifikasi, sementara baru sekitar 25 spesies saja yang dikenal secara luas di dunia. Di Indonesia, yang baru mengenal tanaman ini sejak era tahun 1990-an, spesies-spesies yang dibudidayakan masih terbatas (sekitar kurang lebih 15 species yang beredar/dijumpai di Indonesia) karena kesesuaian syarat tumbuh maupun terhambat masalah proteksi yang diberlakukan di negara asalnya, yaitu Madagaskar, maupun negara-negara lain di Afrika Selatan. Walau demikian beberapa spesies tanaman Pachypodium telah menarik perhatian para pecinta tanaman hias di Indonesia karena bentuk bonggolnya yang ditumbuhi duri serta bentuk daun maupun bunganya yang cantik.
Buku yang sederhana ini mencoba mengupas berbagai hal di balik budidaya dan perawatan tanaman Pachypodium. Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah wawasan maupun mengobati rasa penasaran para pecinta Pachypodium untuk mengenal lebih jauh jenis-jenis yang ada dan belajar lebih banyak mengenai bagaimana cara budidaya dan perawatannya.
Pachypodium merupakan tanaman asli (tanaman endemik) di Pulau Madagaskar maupun Afrika bagian selatan seperti Angola, Botswana, Mozambique, Namibia, Afrika Selatan, Swaziland, dan Zimbabwe. Walau banyak orang menganggap bahwa Pachypodium serupa dengan tanaman kaktus, dan bahkan ada pula yang menganggapnya tergolong tanaman hias palem. Beberapa orang Eropa bahkan menjuluki tanaman yang satu ini dengan sebutan Madagascar palm atau palem dari Madagaskar. Tentu saja hal ini salah kaprah. Sesungguhnya tanaman hias Pachypodium masih terhitung kerabat dekat tanaman Adenium. Hal ini karena Family Apocynaceae memiliki tiga genera (genus) yang dapat digolongkan sebagai tanaman sukulen, yaitu Adenium, Pachypodium dan Plumeria (pohon Kamboja). Maka sungguh tak mengherankan bahwa penampakan morfologis Pachypodium ini mirip sekali dengan Adenium, mulai dari batang, daun, maupun bunganya, walau secara fisiologis serta dalam beberapa hal, Pachypodium memiliki sifat khusus yang membedakannya dengan tanaman Adenium.
Di masa lalu, klasifikasi tanaman Pachypodium sempat menjadi bahan perdebatan dalam genus mana ia harus digolongkan. Beberapa ahli ada yang menggolongkan tanaman purba ini dalam genus Echites sementara yang lain beranggapan bahwa tanaman ini sebaiknya diklasifikasikan dalam genus yang berbeda atau pun genus yang baru. Akhirnya pada tahun 1830, atas inisiatif Leandley, tanaman ini disepakati untuk digolongkan sebagai genus yang unik terpisah dari genus Echites, yaitu genus Pachypodium. Perdebatan masih terus berlanjut seputar spesies-spesies unik Pachypodium yang ditemukan di belahan selatan benua Afrika. Pada tahun 1892, Baker menemukan bahwa spesies-spesies unik sebetulnya lebih banyak ditemukan di sisa pecahan benua kuno, yaitu di Pulau Madagaskar dan akhirnya penelitian mengenai tanaman Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar sehingga penelitian mengenai Pachypodium mulai terfokus pada spesies-spesies yang ada di Pulau Madagaskar hingga pada sekitar tahun 1907, Constantin dan Bois – dua orang peneliti tanaman mulai membuat monograf pertama (peta lokasi habitat dan persebaran spesies-spesies Pachypodium lengkap dengan klasifikasinya) yang saat itu sudah ditemukan sekitar 17 spesies Pachypodium, dimana 10 spesies berasal dari Madagaskar sementara 7 lainnya dari berbagai lokasi yang ada di benua Afrika. Monograf ini mirip dengan monograf yang pernah dibuat oleh Alexander von Humboldt, seorang ahli biologi yang pernah membuat monograf berbagai jenis flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos, seperti yang pernah dilakukan pula oleh Charles Darwin untuk berbagai spesies flora dan fauna yang ada di Pulau Galapagos. Bahkan Pulau Madagaskar dipercaya lebih mempunyai keanekaragaman flora dan fauna dibanding Pulau Galapagos yang sama-sama merupakan sisa-sisa peninggalan atau pecahan benua kuno.
Tanaman Pachypodium hadir dengan pesona yang mengagumkan, seakan merangkum pesona keindahan bunga dan batang Adenium sekaligus pesona duri unik dari Euphorbia sebagai tanaman hias berduri. Walau sosok tanaman Pachypodium tampak cantik, namun tanaman ini hanya bisa difungsikan sebagai tanaman hias dan tidak bisa dimakan, karena seluruh bagian tanaman, terutama getahnya sangat beracun. Getahnya yang beracun bisa menimbulkan iritasi pada kulit bila terkena tangan, dan bahkan bisa menyebabkan kebutaan bila getah tersebut sampai terkena mata. Getah Pachypodium yang beracun, di Afrika bahkan bisa dimanfaatkan untuk membalur ujung mata panah atau mata tombak untuk keperluan berburu. Durinya juga cukup beracun dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit bila tangan kita sampai tertusuk oleh duri tersebut. Nama Pachypodium sendiri berasal bahasa latin yang berarti si kaki gemuk (pachy = gemuk , podium = kaki). Semua tanaman Pachypodium merupakan jenis tanaman sukulen yang batangnya berbonggol gemuk (pachycaule) serta memiliki duri hampir di sekujur bagian tubuhnya. Kedua ciri utama ini merupakan adaptasi Pachypodium terhadap lingkungan habitat aslinya di Afrika yang beriklim gurun (arida) yang kering, serta bersuhu ekstrim di mana perbedaan suhu antara siang dan malam sangat fluktuatif. Di Afrika dan Madagaskar, tempat tanaman ini berasal, Pachypodium biasa tumbuh di bebatuan yang ada di lereng-lereng pegunungan kapur, atau tebing-tebing cadas berbatuan granit yang curam, karang terjal, dan bukit atau tebing berbatuan kuarsa (quartzite). Kemampuan adaptasi secara fleksibel inilah yang membuat spesies-spesies Pachypodium mampu bertahan hidup dan terus lestari hingga sekarang sejak jutaan tahun yang lalu (diduga sudah ada sejak akhir jaman Triasik – antara 160 juta hingga 230 juta tahun yang lalu). Walau begitu, anehnya hingga saat ini belum ditemukan satu pun fosil spesies tanaman Pachypodium, padahal Pachypodium diduga sudah ada sejak daratan Afrika dan Pulau Madagaskar bersatu dalam sebuah benua kuno yang bernama Gondwana di akhir jaman Triasik. Gondwana adalah sebuah benua kuno berukuran raksasa di mana saat itu benua Afrika, Pulau Madagaskar, India, benua Amerika bagian selatan, benua Australia, New Zealand, dan Antartika masih bersatu dalam satu daratan. Pada saat itu Pulau Madagaskar bersambungan langsung dengan bagian selatan daratan benua Afrika yang sekarang, dan juga daratan India yang sekarang merupakan semenanjung India (Peninsular India). Setelah benua kuno – Gondwana, tersebut pecah (yang terjadi pada akhir jaman Cretaceous / jaman kapur – 90 hingga 88 juta tahun yang lalu), akibat pergerakan lempeng tektonik bumi, Pulau Madagaskar yang saat itu masih bersatu dengan daratan India serta benua-benua lain seperti Afrika, Amerika, Australia, dan Antartika memisah. Selama berjuta tahun, Pulau Madagaskar dan daratan India kuno bersatu dalam benua kecil (pulau besar) yang terisolir. Hingga akhirnya pada sekitar 88 juta tahun yang lalu, Madagaskar dan India yang tadinya bersatu dalam satu daratan kemudian memisah. Daratan India kemudian bersatu dengan benua Asia hingga sekarang. Itulah sebabnya tanaman Pachypodium masih terus lestari yang bertahan hidup hingga sekarang dan paling banyak dijumpai tumbuh di Pulau Madagaskar. Tanaman ini telah melewati berbagai tahap adaptasi dan evolusi selama jutaan tahun hingga tetap hidup lestari hingga sekarang. Walau banyak orang mengemukakan bahwa Pachypodium adalah tanaman endemik Afrika dan Pulau Madagaskar, namun beberapa spesies baru maupun spesies yang belum dikenal, banyak bertebaran di India, Amerika dan Australia. Hal ini tidak mengherankan, karena jutaan tahun yang lalu, Afrika, Madagaskar, India, Amerika dan Australia adalah tergabung dalam satu daratan atau benua kuno yang bernama Gondwana. Di Afrika dan Madagaskar sendiri hingga saat ini, masih ratusan jenis Pachypodium liar yang masih belum dikenal dan juga belum teridentifikasi atau pun diklasifikasi. Jadi penyebaran tanaman Pachypodium mungkin sudah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu. Itulah sebabnya, spesies-spesies Pachypodium tidak hanya dijumpai di daratan Afrika dan Pulau Madagaskar saja, namun juga dijumpai di gurun-gurun pasir yang ada di India, Amerika dan Australia. Bukan hanya spesies-spesies tanaman saja yang mirip antara yang ada di Madagaskar dan di India, spesies-spesies hewan yang ada di Madagaskar, beberapa jenis juga bisa dijumpai di India.
Di masa sekarang, dalam perkembangan selanjutnya, tanaman Pachypodium kemudian menyebar dari Afrika ke seluruh penjuru dunia, termasuk Eropa, dan Asia. Di Eropa yang beriklim subtropis, umumnya tanaman ini dibudidayakan dalam rumah kaca dengan pengaturan mikroklimat dan juga media tanam yang diatur semirip mungkin dengan habitat aslinya di Afrika. Pachypodium berasal dari kerabat atau Famili Apocynaceae atau di beberapa negara barat biasa dikenal dengan kerabat tanaman Periwinkle (Catharantus roseus). Beberapa tanaman yang berasal dari famili Apocynaceae dan cukup dikenal antara lain adalah Periwinkle (Catharantus roseus), Adenium (Adenium sp) atau biasa disebut mawar gurun / desert rose, kamboja (Plumeria sp) dan Oleander (Oleander sp). Pachypodium banyak tumbuh dan dijumpai di Benua Afrika dan Pulau Madagaskar. Di daratan Afrika terdapat 4 spesies utama Pachypodium yang berasal dari daratan benua Afrika yaitu Pachypodium succulentum, Pachypodium bispinosum, Pachypodium namaquanum dan Pachypodium lealii. Juga terdapat pula sebuah subspesies yang dikenal dengan Pachypodium lealii Saundersii. Semuanya tumbuh dengan baik di bagian selatan benua Afrika, khususnya di Afrika Selatan. Sedangkan jenis-jenis Pachypodium yang lain (sekitar 20 spesies) merupakan tanaman asli Pulau Madagaskar, sebuah pulau kecil yang berdekatan dengan benua Afrika. Tanaman ini sering disamakan dengan tanaman kaktus, walau tanaman ini termasuk tanaman sukulen. Memang tanaman kaktus termasuk tanaman sukulen, tetapi tidak semua tanaman sukulen adalah tanaman kaktus. Tanaman ini semakin digalakkan budidayanya di habitat aslinya di Madagaskar mengingat semakin berkurangnya hutan di pulau tersebut dalam beberapa ratus tahun terakhir, yang mengakibatkan spesies Pachypodium ini termasuk dalam kategori tanaman langka yang dilindungi karena hampir punah. Penelitian terhadap tanaman Pachypodium sudah berjalan sejak lebih dari seratus tahun lalu, di mana pemerintah Madagaskar telah bekerja sama dengan begitu banyak instansi dan lembaga penelitian baik di dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri. Tanaman Pachypodium sendiri bahkan juga digolongkan sebagai salah satu tanaman langka dunia dan terdaftar dalam appendiks 1 indeks CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yaitu daftar tanaman langka dunia yang dilindungi.
Di Asia, termasuk Indonesia yang beriklim tropis, tanaman ini mulai dikenal di awal tahun 90-an dan terus dikembangkan hingga saat ini. Beberapa hobiis tidak hanya mengimpor biji-biji Pachypodium dari Afrika Selatan melalui Thailand, namun ada pula yang mengimpor komoditi ini dalam bentuk jadi. Tujuannya tak lain adalah untuk membudidayakan dan mengintroduksi tanaman ini untuk lebih dikembangkan di tanah air. Baru pada sekitar awal tahun 2007 mulai banyak para hobiis dan nurseri-nurseri di Indonesia yang mengimpor biji, maupun tanaman dewasa Pachypodium berbagai spesies dari Afrika, Thailand, Jerman, Perancis, Australia dan bahkan dari Amerika, karena tanaman ini kembali digemari para pecinta tanaman hias. Dalam buku terbaru yang membahas tentang tanaman Pachypodium ini, akan banyak dijumpai berbagai informasi terbaru mengenai bagaimana teknik budidaya yang baik, trik merangsang tanaman Pachypodium agar tumbuh menjadi tanaman yang kristata maupun varigata, serta trik bagaimana menstimulasi agar tanaman Pachypodium cepat berbunga. Teknik-teknik rahasia ini belum pernah dibahas sebelumnya dalam buku-buku yang lain. Hanya buku Pachypodium terbitan Gramedia Pustaka Utama inilah yang menyajikan berbagai informasi terlengkap dan terakurat yang bisa Anda dapatkan. Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku terdekat, terutama di toko buku Gramedia dan juga toko buku TogaMas.

Ruby said...

Terimakasih ilmunya...
Informasi yang anda berikan sangat membantu.
Semoga Blognya makin maju.
Salam kenal dari: Ruby Weblog

sabdalangit said...

NASIB NEGERI DI KEMUDIAN HARI
renungan taun anyar 1 sura 1942 taun je

PANTASLAH KUBILANG..
musibah dan bencana yg menimpa negeri ini
gempa, banjir, angin, kekeringan, kebakaran, tsunami, debu vulkanik, paceklik, tanah longsor, kecelakaan
BUKAN LAGI COBAAN (bagi org2 yg beriman...)
melainkan...HUKUMAN, bebendu, dari Tuhan agar kita semua lebih pandai bersyukur...
Lebih baik kita anggap Tuhan telah memberikan
TEGURAN keras untuk bangsa yang yg telah lalai
kepada IBU KANDUNGNYA SENDIRI,
PENGHANAT LELUHURNYA SENDIRI sang Ibu Pertiwi,
yang nikmat jadi PECUNDANG NEGERI...
budaya asing jadi sumber berhala yg dipuji-puji,
Tradisi dan Leluhur bangsa asing disunggi-sunggi menjadi kiblat hati.....SALAH SIAPA ada TRADISI asing kok menjadi AGAMA ...!
para leluhur dan karuhun NEGRI INI suah tak peduli lagi,
membiarkan anak turunnya terkapar siksa neraka dunia...
yang diciptakan Tuhan Yang Mahakuasa !!!

INIlah BANGSA yang "pandai" BERSUKUR di mulut saja...
hati sering lupa,
perilaku dan perbuatan tidaklah sama...
alias OMDO, alias NATO (not action talk only)...
sudah begitu..SELALU KEGEDEAN RASA rumangsa,
DIANGGAPNYA SUDAH BANYAK PAHALA...
MERASA MENJADI MANUSIA paling MULIA,
padahal hina dina...
MERASA diri PALING PINTER...
tidak kenali diri ternyata keblinger...

JAGAD SUDAH JUNGKIR BALIK NUNGGING tujuh keliling
Yang DANGKAL FIKIR, yang buta hati, yang fakir batinnya
LAGAKNYA malah semuci-suci, bicaranya sok pahlawan,
hati, ucapan dan perbuatan tak sepadan...
WAJAH dan SOROT MATANYA tak mampu menutupi jati diri...
beringas ganas melebihi preman jalanan
umpama hantu gentayangan...

TAK SADAR bicaranya MENELANJANGI DIRI semata
PRESTASINYA tiada lain kecuali BERBURUK SANGKA,
MENYANGKA sesat kopar kapir orang2 waskita akan pralampita...

mulut sibuk bersyukur tiada guna...
sekedar trend LATAH beragama
tak sudilah Tuhan kiranya
mendengar si mulut besar selalu menganga
bak buaya lapar di kali gangga
gemar mendapat pujian belaka

yang paham hidup sejati
selalu menjaga kebersihan hati
sikap hati-hati selalu menjaga diri
selalu sibuk mawas diri
bijaksana luhur budi pekerti
tutur kata selalu menentramkan hati
berfikir maju peduli negeri
tidak menghianati ibu pertiwi
hormat menghargai ibundanya sendiri
tidak mempermalukan si dungu yang dangkal budi
arif bijaksana patut diikuti
tapi enggan dipuji-puji...

LAGAKNYA seperti orang dungu
padahal ilmunya setinggi mahameru
TAPI NAAS NASIBMU...
selalu dianggap penipu dan seteru
dituduh penyebar sesat yang kudu dibelenggu
dianggap kapir yg dangkal ilmu
kini mereka memilih membisu
Tapi tunggulah saatnya pasti kan ketemu...
karena Tuhan telah memilihmu
sudah jadi garis Tuhan sejak masa lalu
tak bisa diubah dan diganggu-ganggu
neraka negeri ini akan berlalu
melalui tangan dan kalimat-mu

menyaksikan negeri yang tengah sekarat
dirusak iblis laknat
penuh angkara murka yang dahsyat
dikuasai manusia bejat
yang bertudung pembawa amanat
mengaku-aku penegak sariat
tak menyadari dirinya jajalaknat
o...o ...kamu kamu memang "hebat"...
IBUKU pertiwi hampir kau lumat
digulung kabut jahiliah hitam pekat
menyongsong kiamat lokal yang sudah dekat
Duh Gusti Allah...kula nyuwun rahmat
sebelum semua ini terlambat
disikat orang2 yang mengaku sudah tobat
tiap harinya selalu kumat...menjadi bejat
riwayatmu akan segera TAMAT

negeri ini lahir kembali dengan selamat
akan segera lahir sang penyelamat
ratu adil nan hikmat
asli bumi pertiwi yang bener-bener hebat
menegakkan bangsa penuh martabat
rakyatnya makmur sejahtera terhormat
disegani bangsa sejagad
tiada lagi si keparat
habislah mental kere berebut zakat
semua orang sungguh-sungguh melakukan tobat
negeri menjadi penuh munajat
tidak lagi saling menghujat
anak cucu kita bahagia dan selamat dunia akherat

tiap orang menemukan hidup yang sejati
mendapat rahmat Ilahirabbi
sebab telah menghayati kesejatian gomobudi
menghormati leluhur negeri sendiri
nguri-uri tradisi
kemajuan pesat bidang teknologi
di dalam sistem demokrasi
kemakmuran dan kesejahteraan pribadi
semua orang pasti memiliki
SEKALIPUN kelak negeri ini AKAN BEGINI
banyak orang tetap mempunyai hobi..
makan nasi lauknya sambel trasi
lalapnya pete rebus tanpa dikuliti
biar bau tapi nikmat sejati
asal jangan jadi parfum kamar mandi
pun sakniki gek diwiwiti
sami-sami asesanti memangun negri

Nuwun
Rahayu

mamamiainisaya said...

Artikelnya ngebuat senyum, cerita Anda tentang sahabat Malaysia Anda itu jadi semacam kamuflase buat nyampein pikiran2 Anda tentang tingkah laku Malaysia yang saat ini lagi demen nyontek Indonesia.

Mas Sujiwo, saya dari Boulevard ITB, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa bidang jurnalistik di Institut Teknologi Bandung. Saya ingin mewawancara Anda untuk Rubrik Wawancara Boulevard edisi 63. Kapan Anda waktu? Saya tunggu jawabannya paling lambat Kamis, 22 Januari 2009.
Oh iya, tempat wawancara kalau bisa masih di wilayah Bandung. Terima kasih.

Presiden Prabowo said...

Mari galang persatuan dan kesatuan bangsa! Pererat tali silaturahmi...

Dimana Matahari-ku said...

Great write !! The ambience that you have invented, both metallic and flowery, also candid, takes dedications to higher pedestal than mere praise. Lovely MAs Tejo.