Tuesday, August 07, 2007

Lain "Liyan" Lain Orang Lain

Ibu-ibu keseluruhan, tanpa kecuali, seingat saya dalam forum di Seputar Indonesia ini, sudah lumayan sering saya singgung kian mendesaknya mikirin orang lain. Kini mohon maaf saya masih nggak bosan-bosan juga mengulang tema itu meski dalam varian lain. Abis mo gimana lagi? Ya masih ini-ini pula inti persoalan bangsa. Bahwa kita, termasuk saya, masih juga tak kunjung mikirin orang lain.

Yang kita hirauin melulu diri sendiri. Yang senantisa belibet di benak kita cuma bagaimana membangun keluarga. Paling jauh ya saudara. Bukan di luar itu. Bukan other. The other. Atau orang pedalangan Jawa bilang liyan.

Suku-suku lain, dengan bahasa yang lebih tua ketimbang bahasa Indonesia, tentu punya kata-kata sendiri buat liyan. Yang nggak ada dalam bahasa Indonesia. Maklum, bahasa Indonesia relatif jauh lebih muda dibanding rata-rata bahasa daerah di nusantara.

Sengaja tidak saya rujuk terjemahan other itu ke dalam bahasa Indonesia, misalnya “orang lain”. “Orang lain” bukan kata, tapi kata majemuk, alias gabungan dua kata. Saya nggak sreg menerjemahkan kata dari suatu bahasa ke dalam gabungan kata dalam bahasa lain. Alasannya, secara umum, kata majemuk atau kata bentukan kurang memiliki akar budaya yang kuat pada cara berpikir dan penghayatan hidup suatu kaum.

Ajakan buat mikirin orang lain, salah-salah bisa mudah dipatahkan oleh para penentangnya. Buat apa merhatiin mereka? Dan atas dasar apa kita harus mikirin mereka? Bukankah tanggung jawab kita cuma pada diri sendiri dan keluarga serta sanak-famili?

Ajakan buat mikirin liyan agak susah dipatahkan oleh yang berseberangan pendapat. Karena di dalam liyan terkandung makna diri kita sendiri. Ada diri kita di dalam liyan. Di dalam liyan ada…

Ah, Ibu-ibu tanpa kecuali, saya barusan merasa seakan-akan ditowel oleh Bagong, panakawan dalam wayang. Dia ngingetin saya agar bertahap-tahap dalam menyampaikan pendapat. Alasan Bagong, tidak seluruh Ibu-ibu sedang jernih pikirannya untuk bersedia cepat memahami perbedaan orang lain dan liyan.

Menurut Bagong, tanggung-jawab ibu-ibu seabrek-abrek. Jadi pikirannya susah bening. Ruwet ngatur belanja bulanan. Kepikiran karena anak ke sekolah ketinggalan salah satu bukunya atau kaus kakinya. Belum lagi kalau suaminya tiba-tiba cepat tersinggung. Tersinggung sedikit demam. Tersinggung lagi, masuk rumah sakit. Wah...

***

Baiklah Ibu-ibu, saya akan menyajikan contoh, bahwa kita tak bisa menerjemahkan “liyan” yang cuma satu kata itu menjadi “orang lain” yang terdiri atas dua kata. Karena di balik setiap kata ada konsep yang berawal dari akar budaya suatu kaum. Arti “liyan” sama dengan “orang lain”, namun pemikiran dan penghayatan hidup suatu kaum terhadap kata tersebut berbeda.

Sebagai contoh, sister bisa aja kita terjemahkan menjadi saudara perempuan. Artinya sejenis. Tapi akar budaya yang melahirkan arti keduanya berbeda. Sister lahir dari budaya yang juga mementingkan informasi jenis kelamin dalam hubungan keluarga.

Saudara perempuan lahir dari budaya yang lebih mengutamakan info akan hubungan darah dalam keluarga. Bahwa yang punya hubungan darah itu jenisnya laki atau perempuan, ya urusan belakanganlah.

Malah, lebih penting ketimbang ngurus apakah dia lelaki atau perempuan, adalah ngurus dia itu lebih tua atau lebih muda. Kalau lebih tua kakak. Lebih muda adik. Nah, sekarang gantian bahasa Inggris nggak punya konsep itu. Mereka pakailah kata majemuk dengan unsur “lebih tua” atau “lebih muda”, elder sister atau younger sister.

Kayaknya bahasa India punya konsep yang kuat akar budayanya untuk hubungan dengan “kakak ipar”. Bahasa Mandarin punya konsep serupa untuk jenjang dan urutan “paman”. Kayaknya lho. Kok pada film-film India maupun Mandarin yang disulih-suara saya sering melihat mulut mereka maksimal melafalkan dua suku kata, singkat, tapi suaranya dalam bahasa Indonesia terdengar panjang “kakak ipar” maupun “paman kedua”.

Tambah kelihatan aneh kalau adegannya adalah seseorang yang berlarian memburu orang lain, dengan napas tersengal-sengal dan mestinya cuma sanggup meneriakkan satu suku kata macam “Mas”, “Dik”, “Hoi”. Anehnya, si ngos-ngosan itu malah masih sempet-sempetnya menyerukan dua suku kata “kakak ipaaar” atau “Paman keduaaa”…

Arti “kakak ipar” dan apa yang terucap dalam bahasa aslinya pasti sama. Tapi konsep pemikiran dan penghayatan hidup atas kedua kata itu berbeda. Kalau apa yang ada di dalam kepala dan hati berbeda dengan apa yang terucap di mulut, ya jadi aneh. Setidaknya, dengan kepekaan sedikit saja, kita yang menonton adegan itu jadi merasa janggal.

Begitu pula “orang lain” dan “liyan”. Pada “orang lain” kita tidak melihat “aku”, tapi pada “liyan” kita selalu mengamati seksama bagian mana dari dia yang merupakan diri kita sendiri. Ya, pasti tidak seekstrem perhatian ketika kita berusaha mencari-cari keberadaan kita sendiri kalau kita sedang mengamati anak kandung.

Terima kasih kepada Mbak Dewi Soedardjo yang cantik, pemimpin persekutuan doa di kawasan Cipete dan pekerja sosial, yang mengilhami tulisan saya. Yang membuat saya juga makin yakin bahwa tidak seluruh ibu-ibu cuma mikirin keluarganya, di tengah bangsa yang entah umurnya tinggal berapa panen jagung lagi ini saking kiran rapuhnya sikap kebersamaan.

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan
*diterbitkan di Harian Seputar Indonesia, 03 Agustus 2007

1 comment:

KhamShe said...

pagi..mas aldi..pantesan kok orang sibuk bisa ngeblog ..ternyata ada pengelolannya toh.

gampang tinggal daftar..trus copy paste script htmlnya.

sekalian pasang shoutbox sama link blogroll biar makin banyak pengunjung dan siapa saja mereka. wong aku aja juga lagi belajar mas..yg penting TETAP SEMANGAT.