Saturday, September 15, 2007

CINTA

Kali ini soal cinta. Soal sejuta rasa. Begitu kalau pinjam syair lagu mbak Titiek Puspa.

Tapi mbak “nenek genit” itu emang bener sih. Apa lagi coba yang lebih sejuta rasa ketimbang cinta? Saking sejuta rasanya, tak bisa cinta itu dilukiskan dengan kata-kata. Pun tak bisa dikatakan dengan sejuta lukisan.

Pernah saya mimpi. Suatu hari, entah kapan ya, kalau berkesempatan bikin teater lagi kayak dulu-dulu, saya akan bikin adegan begini:

Di sebuah kafe, seorang perempuan yang lagi getol-getolnya pada soal filsafat dan politik, jengah. Ngambek dia. Pasalnya, band kafe membawakan tembang cinta melulu. Dari petang sampai larut.

Perempuan itu memberesi tasnya. Menjelang beranjak ia protes pada pacarnya, “Kenapa sih dari petang tadi orang nyanyi lagu cintaaaaa melulu. Bahkan sejak sebelum Masehi..”

Sang pacar menjawab sekenanya, “Emang dalam hidup ini ada lagi yang lebih penting ketimbang cinta?”

Meski dijawab asal, di luar dugaan, perempuan itu tak jadi pulang. Perempuan itu (gambarkanlah rambutnya luruh sepunggung, hitam kehijauan oleh cahaya kafe, putih matanya senantiasa berembun) tak jadi pulang.

Ia tinggal di kafe itu sepanjang masa. Mempertimbangkan lagi penting atau tidaknya filsafat dan politik. Perlu atau tidaknya mengikuti berita pencalonan mbak Mega sebagai presiden oleh PDI-P. Manfaat atau tidaknya menunggu-nunggu siapa calon dari Golkar. Dan sebagainya. Dan sepanjang masa pula perempuan itu mendengarkan cuma tembang-tembang cinta di suatu kafe di pusat politik.

***

Gita-gita cinta terus disenandungkan. Sepanjang abad. Tapi cinta tak kunjung dimengerti. Orang selalu ingin mendengar penjelasannya lagi. Ingin lagi. Lewat drama, lukisan, sastra termasuk yang paling banyak adalah lewat musik.

Belum lama ini saya main-main ke tempat sesama orang Jember, Anang. Ke studionya. Kawasan Pondok Indah. Eh, ternyata dia juga lagi mixing album barunya yang nggak direlease dalam bentuk cd maupun kaset. Duet dengan Yanti (KD). Ternyata juga soal cinta. Udah rampung kelihatannya. Siang-siang di suatu gardu Satpam di Ciputat, saya mendengar tembang duet cinta itu dari radio Bens.

Pasti nanti ada teman-teman pemusik lain yang masih ingin share soal cinta. Dan pasti masyarakat belum puas juga. Mereka diem-diem akan terus memohon para seniman membuat tafsir baru perkara sejuta rasa ini. Dan pasti para seniman tak akan bisa tuntas serta final menjelaskannya.

Bagi saya, cinta memang tidak bisa dijelaskan. Cinta berbeda dibanding sepeda motor, negara, Borobudur dan lain-lain. Semua bisa didefinisikan. Semua bisa dijelaskan but love...

Paling-paling perkara sejuta rasa ini cuma bisa ditandai gejala-gejalanya, tanpa bisa kita jelaskan tuntas definisinya. Bagi saya, kalau putera atau puteri ibu ditanya kenapa mencintai seseorang, apa alasannya, dan mereka bisa menjawab tuntas, berarti mereka tak menampakkan gejala cinta. Bukan cinta itu namanya. Itu itung-itungan.

Salah satu hiburan saya kalau nonton kabar kriminal di televisi adalah menyimak ekspresi mata salah seorang pasangan, jika pasangannya diborgol oleh polisi entah gara-gara narkoba, nyolong duit dan lain-lain.

Pasangan itu biasanya membela mati-matian. Sebagian, kayaknya, karena yang sedang diborgol itu merupakan tulang punggung ekonomi pasangan. Ini juga itung-itungan. Bukan cinta.

Tapi, yang biasanya saya terhibur, ada juga yang membela mati-matian bukan lantaran sumber daya duitnya diborgol polisi. Itu agak bisa kita raba-raba dari nyala matanya di kamera. Dia membela dan tidak tahu alasannya membela. Sama halnya dia jatuh cinta pada yang diborgol itu tanpa tahu alasannya. Pokoknya cinta aja.

Ibu-ibu, karena tak ada yang tiba-tiba di dunia, termasuk tindak kriminal, pasti dulu-dulunya ketika awal pacaran sudah ada gelagat kriminalitas itu pada calon pasangan. Pasti keluarga yang anggotanya dipacari oleh orang yang punya potensi kriminal itu tak setuju. Pasti dia berjuang mati-matian untuk tetap bisa pacaran ma dia, terlepas keluarganya setuju atau tidak. Seru!

Itu yang menghibur saya. Masih banyak cinta di muka bumi ini. Dan nyata.

***

Ibu-ibu yang saya hormati, semuanya, yang berambut panjang maupun pendek, kemarin saya ke sebuah tempat yang sudah lama tidak saya kunjungi, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta. Ternyata saya bertemu senior saya, pelukis Sri Warso Wahono dan Syahnagra.

Dari situ saya dapat kabar duka. Seorang senior seniman sedang stroke di kota “S”. Sudah tak bisa mendeteksi sahabat. Dulu dia dikenal sebagai perayu ulung dan banyak banget pasangannya. Mas Sri Warso wanti-wanti, agar kita semua inget masa tua, suatu masa yang datangnya cepat tapi sangat halus sampai kita tak merasa tau-tau udah tua dan stroke.

Saya mendebat. Kalau kita terlalu hati-hati demi masa tua, nggak makan ini, nggak makan itu, nggak ngrayu ini nggak ngrayu itu, bukannya kita jadi stres juga dan akhirnya stroke juga.

Syahnagra punya jawaban dahsyat, yang mungkin berguna juga buat ibu-ibu lebih-lebih untuk bahan renungan di awal puasa ini. “Tidak usah takut ngadepin masa tua,” katanya. “Hidup wajar saja sekarang. Nggak usah ketat pantang ini-itu. Yang penting ada orang yang mencintai kita. Masa tua kita akan tenang.”

Ibu-ibu, maaf nih, suami cinta Ibu nggak sih? Atau sekadar “asal tidak cerai” dan “demi anak-anak”?

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan – http://www.sujiwotejo.com
*tulisan ini telah diterbitkan di Harian Seputar Indonesia, edisi 14 September 2007

*Dapatkan SMS berlangganan dari Dalang Edan Sujiwo Tejo tentang cara berbagai hal dipandang dari dunia pewayangan. Caranya, ketik reg pde1, kirim ke 9388, Tarif Rp 1.000/SMS. Apabila Anda ingin berhenti, ketik unreg pde1, kirim ke 9388

“…Letakkan Kepalamu di Bawah Telapak Kakimu...”

Waktu nyantri, saya suka sajak-sajak sufi. Dekat sekali sih ama pedalangan. Saya suka penggal syair Jalaluddin Rumi:

…tangga menuju langit adalah kepalamu…
maka letakkanlah kepalamu di bawah telapak kakimu…


Saya tafsir sekenanya. Seingat saya, jalan ke Tuhan ya pikiranmu itu. Lalu, paradoksnya, taruhlah pikiranmu di bawah perbuatanmu. Lakukanlah apa saja. Asal diniatkan buat Tuhan. Jangan (terlalu) pakai nalar. Kau akan ketemu Tuhan.

Tapi menginjak SMA, guru agama bilang, beragama mbok pakai akal. Jangan cuma ikut-ikutan. Termasuk berpuasa.

Mulailah saya pakai banyak pikiran. Artinya harus ada jawaban buat “kenapa” pada setiap tugas peribadahan. Kenapa kita puasa? Karena perut ibarat mesin, perlu istirahat.

Masuk akal. Lingkungan saya di Situbondo ada lima pabrik gula. Semuanya istirahat tiap enam bulan sebelum musim giling tebu. Tapi kok ada juga yang nggak butuh istirahat tuh. Paling gampang jam dan tanggalan di laptop. Laptop mati atau nggak, nggak ada urusan. Dia hidup terus seperti jantung.

O, nggak ding. Puasa itu untuk menggladi solidaritas sosial. Kita harus sanggup merasakan lapar. Jadi punya kasih sayang pada orang papa. Lho, tapi kalau ini tujuan puasa, lantas gimana puasa orang yang sehari-hari telah miskin dan lapar?

Sebentar…Kalau gitu, bisa aja puasa untuk latihan nahan diri. Ah, ini lebih masuk akal. Tiap hari ada produk baru apalagi handphone. Sekarang sudah 50-an juta orang Indonesia pakai handphone. Sudah itu keinginan beli handphone-nya lebih tinggi dibanding Himalaya. Makanya Nokia juga pernah launching produk barunya di sini, bukan di negara-negara kaya. Orang-orang kitanya pakai antre lagi kayak mau masuk ujian perguruan tinggi.

Belum baju. Belum mobil. Belum aksesoris. Wah... Tiap detik ibaratnya semua itu menjibuni kita. Sampai kita megap-megap diperbudak oleh nafsu membeli. Daya tahan kita ditagih buat membeli yang perlu-perlu aja. Maka kita perlu puasa buat latihan.

Lho, tapi kalau cuma buat latihan nahan ndak beli-beli, kan nggak usah dengan puasa? Udah aja saban hari, nggak melulu di bulan Ramadhan, kita latihan nahan diri buat beli yang perlu-perlu aja.

Belum perlu main internet sepanjang masa? Ya beli handphone yang nggak pake internet-internetan. Belum perlu motret atau kirim gambar pakai handphone, ya beli handphone yang lugu-lugu aja. Tangan masih kuat? Itung-itung senam, ya nggak usah beli mobil yang pintunya nutup sendiri.

Kalau mau jalan-jalan di internet atau media massa lain, latihan nahan dirilah untuk tak terlena di sana. Kalau bahan-bahan yang Anda jumpai di situ ternyata tak bisa dikaitkan dengan pengambilan keputusan hidup pribadi dan profesional Anda, itu namanya “data”, bukan “informasi”.

Latihan nahan diri untuk menjadi “masyarakat informasi” yang sejati, ndak usah sampai ngombro-ombro jadi “masyarakat informasi yang semu” alias “masyarakat data”, itu sudah puasa yang bagus. Kita tak jadi budak pemodal agung yang menguasai dunia, yang menggembar-gemborkan “masyarakat informasi” tapi sesungguhnya cuma nimbun kita dengan “data-data”.

Jadi, kalau dipikir-pikir, kenapa kita masih perlu puasa Ramadhan? Ternyata, karena tangga menuju langit adalah kepalamu…letakkan kepalamu di bawah telapak kakimu…

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan - www.sujiwotejo.com
*telah diterbitkan di rubrik Frankly Speaking, Area Free Magazine edisi 95 /September 2007

Sunday, September 09, 2007

Ikhwal Hati dan Rempela, tapi bukan Resep Dapur

Minggu dua pekan lalu saya bosen hidup. Bosen banget. Tapi saya nggak pengin bunuh diri. Ndak enak. Masa’ hidup kok frustrasi. Masa’ orang yang kerja di kesenian kalah daya tahan dibanding orang-orang birokrasi. Masa’ kalah ama Yusril Ihza Mahendra. Dicopot dari sekretaris negara, ndak putus asa tuh tokoh ini…malah main film jadi Laksamana Cheng Ho.

Agar nggak bosen, biasanya saya selalu bawa alat musik kemana pun. Lumayan. Bisa buat pelipur saat tiba-tiba bosen hidup. Tapi waktu itu lupa bawa. Jadi saya pergi ke Gasibu aja. Lapangan depan Gedung Sate ini, Gedung Gubernuran di Jawa Barat, senantiasa rame kalau pas Minggu pagi. Orang senam. Jualan. Jalan-jalan. Mejeng. Dan sebagainya.

Ah, ada pengamen akrobat. Mengikat orang dengan tali-temali. Membakar. Ilustrasi musiknya pake gamelan. Ketika nonton saya nggak tahan pengin ikutan main gamelan. Saya nimbrung ikutan nabuh instrumen tradisi itu. Lama-lama capek. Dan bingung lagi. Bosen lagi.

Saya lupa. Ternyata di mobil ada titipan saksofon Kiki Dunung Basuki, seniman dari Solo, putera dalang perempuan Nyi Rumyati Ajangmas. Saya mainkan aja alat itu sambil jalan kaki keliling Gasibu. Ternyata ada orang pengin ngambil gambar. Ya udah saya berhenti berjalan.

Kebetulan saya mandek tepat di depan kaki-lima penjual mobil mainan anak-anak. Action sekalian. Main saksofon. Corong saksofon saya arahkan tepat pada mobil-mobilan tenaga baterei yang sedang memutar-mutar dipamerkan.

Eh, mobil yang sedang berputar-putar itu lantas dijumput ama pedagangnya. Saya kira dia marah. Ternyata dia menggantinya dengan baterei baru. Mobil mainan itu lantas dikasihkan ke saya. Hah? “Mas sudah menghibur saya,” alasannya.

Saya kaget. Dalam hati saya bilang, “Saya nggak niat menghibur sampeyan. Ada orang mau ambil gambar. Saya kasih gambar yang mungkin asyik, tapi mungkin mengganggu sampeyan…”

Saya menolak dikasih mobil mainan. Tapi pedagang itu ngotot terus. Saya terima juga akhirnya dan jadi oleh-oleh ketika balik ke Jakarta.

***

Mungkin ini teguran dari Tuhan kepada diriku. Sudah beberapa waktu ini saya sebel ama kebanyakan orang di Nusantara. Sebelnya, gimana orang-orang arsipelago ini bisa maju bareng-bareng menjajari negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam, kalau orang-orang kayanya tidak mikir kaum fakir, tapi sebaliknya orang-orang miskinnya juga kebangeten ndak mau merombak nasibnya sendiri.

Orang-orang miskin di Indonesia menganggap bahwa segala sesuatu dari orang kaya bukanlah uluran, bantuan, pertolongan maupun dukungan. Tapi semua itu adalah kewajiban. Perombakan nasibnya disandarkan pada orang-orang kaya yang mereka wajibkan buat membantu mereka.

Makanya ada ungkapan dike’i ati ngrogoh rempelo, dikasih hati masih juga minta rempela. Saya kira banyaknya kegagalan program-program bantuan macam kredit-kredit usaha kecil, adalah mental penerima kreditnya. Sudah tentu ini di luar faktor korupsi dalam perjalanan kucuran kredit itu.

***

Kenapa saya menuduh orang-orang miskin punya mental dike’i ati ngrogoh rempelo? Mungkin karena pengalaman lima belasan tahun yang lalu ketika pulang lebaran naik kereta. Ada seorang ibu-ibu membawa tiga bungkusan oleh-oleh mudik dalam kardus bekas mie instan. Susah payah dia naikkan bingkisan buat kampung halaman itu ke rak kereta, hingga gang gerbong macet. Saya bantuin.

Tidak ada ekspresi terima kasih, baik lisan maupun raut wajah. Eh, ibu itu malah nuding dua bungkusan lain, seolah-olah itu juga menjadi tanggung-jawab dan kewajiban saya buat merakkannya. Inilah dike’i ati ngrogoh rempelo dalam salah satu versi contohnya.

Pengalaman ini traumatis buat saya. Pengalaman ini bikin saya shock. Bahkan seingat saya, saya sangat bersemangat mendukung buku yang sedang disiapkan Dr. Sukardi Rinakit bahwa sebetulnya tidak ada gotong-royong dalam masyarakat Indonesia. Saya ceritakan juga pengalaman kereta itu dengan berapi-api.

Saya khilaf. Saya lupa. Bahwa mungkin saja saya keliru dengan main pukul rata. Bahwa bisa saja tidak semua kalangan miskin berperilaku seperti itu…take saja tanpa give (give-nya entah sekadar senyum…entah sekadar nggak mengubah bantuan itu jadi kewajiban).

Bahkan saya lupa, bahwa sebelum peristiwa Gasibu itu sebetulnya saya sudah dikasih sinyal oleh Tuhan. Ada seorang tentara rendahan. Polisi Militer. Sambil nunggu komandannya, dia itu nembang terus di emper pertokoan di bilangan Kebayoran Baru. Sangat kontras. Orangnya tinggi besar. Gagah. Pakai selempang-selempang putih yang bikin merinding. Pakai pistol lagi. Tapi tembangnya alus dan bikin ngantuk.

Saya yang nongkrong di sebelahnya lama-lama gatel. Beberapa baris tembangnya saya koreksi dikit-dikit. Saya ajari juga tembang-tembang populer dari Almarhum Ki Narto Sabdo. Dia sampe nyatet segala. Lalu pergi sebentar. Wah, wah, wah…balik lagi sudah bawa tiga bungkus rokok buat saya.

Jujur saja, saya nggak nyangka bakal sebesar itu etika take and give-nya. Gobloknya, saya cuma ingat beberapa jam peristiwa ini. Dan baru ingat lagi pada kejadian Gasibu di pagi cerah suatu Minggu, di Kota Kembang yang syahdu.

Pagi itu saya tiba-tiba juga ingat, tiga tahun lalu, ketika gladi resik wayangan, seorang penabuh penting gak bisa hadir. Saya marah. Kukuhnya, “Maaf Mas, dibayar berapa pun saya tetap nggak bisa hadir gladi. Nuwun sewu. Karena saya harus ke Wonogiri. Hajatan nikah anak temen. Soalnya dulu dia datang pas saya punya hajat manteni anak saya.”

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan – http://www.sujiwotejo.com

*Dapatkan SMS berlangganan dari Dalang Edan Sujiwo Tejo tentang cara berbagai hal dipandang dari dunia pewayangan. Caranya, ketik reg pde1, kirim ke 9388, Tarif Rp 1.000/SMS. Apabila Anda ingin berhenti, ketik unreg pde1, kirim ke 9388

Sunday, September 02, 2007

“Where Have All the ‘Orang-orang Padang’ Gone?”

Saya punya temen. Insinyur elektro. Tapi ia Padang. Tahu kan maksud saya? Yup, ‘tul. Di awal-awal tumbuhnya mal di negeri ini, ketika semua harga jadi pas bandrol, dia punya komentar menarik. “Matilah tradisi tawar-menawar kita,” katanya.

Buat dia, ternyata, tawar-tawaran tak cuma tarik-ulur harga. Lebih mendasar ketimbang itu, tawar-menawar adalah komunikasi. Itulah inti penjajaan produk ketika suatu komoditas belum dipasangi harga pas. Dasar orang Padang, ya?

Tapi saya kemudian seperti dibawanya keluar Sumatera Barat. Bukankah tradisi nego harga juga tumbuh di berbagai penjuru Nusantara? Saya jadi teringat Sumenep pada tahun-tahun SM (bukan Sebelum Masehi tapi Sebelum Mal). Ah, tetapi Makassar juga. Denpasar. Semarang. Yogya. Sala. Bandung. Banda Aceh. Serang. Dan sebagainya.

Pola komunikasi tawar-menawar ini bisa jadi mekanisme penyaring kelas masyarakat. Di kalangan pedagang, mereka yang suka tak menjawab penawaran nekad dan murah, apalagi pakai merengut dan buang muka, sudah pasti ditinggalkan pembelinya. Di kalangan pembeli, ada tempat khusus dalam lingkungan keluarga bagi anggotanya yang lihai menawar.

Sebelum zaman pas bandrol itu, mekanisme tawar-menawar juga bisa dijadikan tolok ukur. Sejauh mana masyarakat, pembeli dan pedagang, masih menyepakati simbol-simbol budaya lokal. Hak-hak khusus semacam prerogatif bagi presiden juga berlaku bagi produk dan transaksi tertentu.

Pedagang pusara dan batu nisan sudah pasti mikir beribu kali buat menjajakan dagangannya. Karena dia tahu masyarakat tak boleh atau pamali menawar jenis produk ini. Masyarakat pedagang kaki lima dalam area wayangan sudah tahu, makanan harus gratis jika buat dalang yang tiba-tiba kelaparan di tengah pementasan.

Anak kiyai, anak pandita, anak tokoh-tokoh agama harus dapat perlakuan harga khusus (anak pejabat tak termasuk). Sering kali kaum pedagang pantang tidak gratis pada darah-daging orang khusus itu. Sama halnya, demi urusan pelarisan, mereka akan pantang pasang harga fixed pada pembeli pertama.

Untung sebagaimana umumnya proses kebudayaan. Semua berputar seperti cakra manggilingan. Orang kembali tertarik mengunjungi pasar-pasar yang pake tawar-ria. Taman Puring di kawasan Kebayoran Baru kian marak. Orang-orang mulai melirik belanja di KRL Jakarta-Bogor. Harganya tergantung waktu dan tempat. Makin sore dan makin dekat Bogor, dagangan kian murah.

Di Pasar Pagi, asal pintar nawar, parfum kabarnya bisa sampai selisih 50 persen ketimbang di mal. Belum lagi di Pasar Uler. Komunikasi lengkap sudah di kawasan sempit ini. Karena selain ada komunikasi mulut, juga ada komunikasi badan saking desak-desakannya manusia. Ini belum lagi kalau kita sebut tempat-tempat serupa di New York, Seoul, Amsterdam dan lain-lain.

Mal emang masih ada. Dan terus kian gede-gedean. Tapi sekarang, sekali-sekali kalau terpaksa pergi ke mal, saya selalu terkenang kata-kata insinyur but Padang itu. Harga-harga final udah terpasang. Komunikasi dengan penjaja paling banter ya senyam-senyum.

Suasananya jadi dingin. Situasinya jadi seperti melihat kumpulan manusia kini. Seseorang berpidato. Khalayak tak memandang yang berpidato. Semua tunduk baca teks pidato yang sudah disebarkan oleh panitia. Pidatonya jadi harga pas. Tak lebih, tak kurang dari naskah yang telah diedarkan seperti bandrol. Ndak asyik.

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan
*Artikel ini diterbitkan di rubrik 'Frankly Speaking' Area Magazine edisi 94/ September 2007

Thursday, August 30, 2007

ADA SAJADAH PANJANG TERBENTANG…(2)

Ibu-ibu, kesanggupan saya pada Seputar Indonesia pekan lalu saya laksanakan kini. Inilah beberapa contoh orang yang tak mikirin diri sendiri dan keluarganya. Contoh orang yang, tampaknya, bahagia disebabkan oleh membahagiakan orang lain.

Ibu Sri Irianingsih (Rian), pendiri Sekolah Darurat Kartini di suatu kolong jalan layang kawasan Jakarta Utara, punya dua anak yang kini sudah berkeluarga dan mandiri. Kembarannya, Ibu Sri Roosyati (Rossy), yang juga bergerak dalam pendidikan gratis kolong itu, punya empat anak yang juga tak bermasalah.

Salah seorang anak Ibu Rian yang telah meraih pendidikan S2, tiba-tiba dapat beasiswa ambil program doktor (S3) ke Inggris. “Padahal baru setahun kerja di departemen pendidikan,” kata Bu Rian. Kelahiran Semarang 1950 ini mencoba menemukan kemungkinan rezeki itu.

“Mungkin rezeki itu karena hal yang saya lakukan sejak tahun 70-an (mengajar tak dibayar, malah kerap jual gelang, kalung dan lain-lain)...Padahal dulu waktu anak saya mau ambil doktor di luar negeri, saya bilang, gak usah. Ambil doktor di sini aja. Emang anak-anak yang kere itu gak perlu sekolah. Emang yang butuh sekolah kamu dewe…Eh, nggak tahunya…”

Sebenarnya Rian bisa mberangkatin sendiri anaknya ke luar negeri. Ada deposito kok. “Itu milik keluarga. Dihibahkan oleh ibu. Tapi untuk anak-anak miskin,” timpal Rossy yang sedang menulis buku. Maksud Rossy adalah keluarga tak mampu di sekitar jembatan Rawa Bebek, yang salah satu alumnusnya bahkan ada yang bisa melanjutkan di tempat bergengsi, Sekolah Internasional Gandhi.

Sekarang ganti, Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA. Puluhan tahun perempuan kelahiran Bone 1958 ini memperjuangkan kesetaraan pria-wanita. Karya-karya tulisnya antara lain Islam Menggugat Poligami (LKAJ, 1998), Potret Perempuan dalam Lektur Islam (Depag, 1999), Pedoman Dakwah Muballighat (KP-MDI, 2000), Perempuan dan Politik (Gramedia, 2005) yang ditulisnya bersama Anik Farida.

Para sejawatnya sering menyebut Siti Musdah “orang gila”, karena tiap hari kerjanya meneliti dan rapat yang gak ada uangnya. “Tapi saya merasa jadi orang yang berguna. Bisa membuat orang (perempuan) lain merasa nyaman, pada saat mereka tertindas,” katanya.

Timbal-baliknya, yang menarik, Bu Siti Musdah mengaku ditolong Tuhan dalam dua hal. Pertama, ia merasa pede aja meski nggak pakai handphone bagus, tas atau jam bagus. Kedua, selalu ada saja teman-temannya yang membelikan jam, tas dan aksesoris lainnya.

Akhirnya ia berkesimpulan, “Semakin banyak yang kita berikan, semakin banyak yang kita dapat. Memang tak harus materi seperti jam. Tapi (kesehatan) keluarga juga. Saya merasa keluarga saya ada yang melindungi.”

***

Ibu-ibu, sudah sekitar setahun saya nggak melakukan ini dalam keluarga: Kalau pas makan bareng anak-anak di rumah-rumah makan, saya minta anak-anak mencuri-curi pandang keluarga-keluarga lain di tiap meja. Mereka saya minta menebak-nebak, keluarga sebelah mana yang cuma mikirin keluargaaaaa terus, dan keluarga meja mana yang punya kepedulian pada orang lain.

Itu bisa tampak dari cara mereka makan. Itu bisa tampak dari cara mereka memperlakukan pelayan. Bisa tampak pula dari raut wajah mereka. Asyik atau nggak. Ini nggak ada hubungannya dengan ganteng atau cantik. Banyak yang rupawan, tapi nggak asyik. Dan sebaliknya.

Saya tahu, keliru menghentikan kebiasaan ini. Jadwal saya kacau balau. Tapi, ya, itu bukan excuse. Mestinya anak-anak terus saya latih. Dan mestinya makin banyak keluarga yang melatihkan ini pada anak-anaknya. Sehingga kelak presiden, gubernur, bupati maupun anggota parlemen yang cuma mikirin keluarganya gak bakal tercoblos. Wong dari pajangan foto aja bisa kerasa kok. Itu kalau kita setia pada perasaan yang terasah.

Mau gak ganteng, mau gak cantik, orang yang mikirin orang lain itu ya fotonya ya sosoknya bawa hawa yang adem. Saya ketemu Ibu Dewi Soedarjo misalnya, adem. Sayangnya ini bukan contoh yang bagus, karena ibu ini cantik. Tapi saya cuma yakin kalau misalnya gak cantik dia akan adem juga lho.

Adem karena mikirin orang lain alias liyan. Lingkungan Darmawangsa Residences di Jakarta menjuluki perempuan 45 tahun ini the power of service. Prinsipnya, minimal 10 persen dari penghasilan harus dikeluarkan buat sesama. “Termasuk kalau anak saya dapat hadiah uang dari neneknya, dia harus keluarkan paling kurang 10 persen,” kata puteri Solo yang beranak tiga ini.

Jadi setiap orang datang minta uang, dikasih?

Dewi mengangguk. “Jumlahnya saja yang tergantung hati saya. Tapi saya jarang menunda. Karena Tuhan juga tidak pernah menunda permintaan saya. Saya banyak dapat berkah dari Tuhan. Itu harus menjadi berkah buat lingkungan,” katanya.
Hasilnya, kalau boleh berkalkulasi dengan Tuhan, rumah yang dibelinya kini di kawasan Cipete tidak angker lagi. Padahal pemilik-pemilik sebelumnya kalau nggak meninggal ya sakit-sakitan. Beberapa dukun telah didatangkan ke tempat itu, termasuk dari Filipina. Mikirin orang banyak ternyata lebih ampuh dari kekuatan dukun.

Wah, dari tadi ibu-ibu ya. Ya udah, saya kenalkan dengan Ahmad Suwandi ya? Dia aktivis Fauna & Flora International. “Eh, pernah suatu siang, tiba-tiba ada orang yang mau membayari hutang saya yang sudah lama banget,” katanya. Dan itu baru secuplik pengalaman anehnya.

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan

*Dapatkan SMS berlangganan dari Dalang Edan Sujiwo Tejo tentang cara berbagai hal dipandang dari dunia pewayangan. Caranya, ketik reg pde1, kirim ke 9388, Tarif Rp 1.000/SMS. Apabila Anda ingin berhenti, ketik unreg pde1, kirim ke 9388

Wednesday, August 22, 2007

ADA SAJADAH PANJANG TERBENTANG...(1)

Toilet umum masih penuh berkah. Di peturasan itu saya sering jumpa tokoh-tokoh yang saya diem-diem pengin ngobrol.

Belum lama saya bisa ketemu tiba-tiba kepergok Yok Koeswoyo di suatu toilet di Senayan. Pekan lalu ketemu penyair Taufiq Ismail. Ndak pake rencana. Itu di toilet umum juga. Di Menteng.

Dia kaget. Soalnya begitu kepergok saya langsung minta maaf. “Ini ada apa?” katanya sambil merapikan diri sehabis buang air.

“Pokoknya saya mau minta maaf, Mas. Di berbagai forum terbatas yang tidak ada pers, saya selalu mengkritik Mas Taufiq. Kadang sangat emosional. Gara-garanya ya lagu Bimbo. Mas Taufiq nulis syairnya. Itu lho yang ada kalimat…sajadah panjang terbentang dari buaian hingga ke liang kubur…”

Dokter hewan dan penyair kondang ini masih bengong.

“Lagu itu sudah bagus-bagus ngingetin kita, betapa sembahyang yang sejati terselenggara di sepanjang hidup, tanpa ada jadwal. Sajadahnya sepanjang waktu kelahiran sampai tanah makam…Eh, masa’ terus ada kalimat, sembahyang yang panjang itu disela-selai dengan interupsi, mencari nafkah, mencari rezeki dan lain-lain…”

Pemahaman kayak gini, menurut saya, bikin masyarakat amburadul. Nggak ada yang mikirin. Setelah sembahyang (ke masjid, gereja, vihara, kuil dan lain-lain), orang pada sibuk mikir diri sendiri. Korupsi dan lain-lain. Aktivitas kesehariannya ndak ada hubungannya dengan sembahyangnya.

Pantesan dalam mencari rezeki, orang merasa halal korupsi. Dengan kata lain, orang boleh nggak memikirkan dampak negatif bagi orang banyak. Yang penting diri dan keluarganya untung. Toh ini cuma interupsi. Toh ini sementara saja, mumpung lagi luar rel “sajadah panjang”.

Padahal, kalau saya nggak salah ingat, setiap agama punya semangat sosial. Malah ada yang bilang, sembahyang yang sebenarnya ialah berbuat kebajikan buat orang banyak. Ini nggak ada jadwalnya. Ini sepanjang waktu. Ini juga kerap dibilang dalam wayang.

Sembahyang formal dan ada jadwalnya terhadap Tuhan baru punya nilai di depan-Nya, kalau makin kuat menggerakkan orang untuk melakukan perbuatan bagi sesama. Sembahyang individualnya menjadi laksana generator yang membangkitkan energi sosial.
Saya pikir Mas Taufiq marah. Di depan cermin toilet, tokoh ini justru ketawa. “Anda benar,” katanya dengan suara khasnya yang serak. “Itu teknis saja. Waktu saya tulis saya sulit mencari kata-katanya. Begitu saja keluar kata interupsi, “ jelasnya.

***

Ramadhan sudah dekat, Ibu-ibu. Biasanya di bulan itu lagu-lagu Bimbo berkumandang. Kini ibu-ibu udah saya ceritain. Penulis liriknya sendiri sudah mengaku keliru. Jadi, sebelum Mas Taufiq meralat, mungkin baik juga ibu-ibu kasih tahu suami atau anak yang mendengarkan tembang itu.

Please bilang, “Mencari rezeki dan lain-lain bukan interupsi lho…Itu bagian yang sah dari sembahyang panjang di atas sajadah panjang…”

Menyanyi. Menulis. Jadi presiden maupun penjaga pintu rel kereta api. Semuanya mesti diniatkan menjadi bagian yang sah dari sembahyang panjang. Melawak. Bekerja di rumah jagal. Menjual jamu gendongan maupun jadi menteri dan lain-lain. Seluruhnya mesti diniatkan terselenggara di atas sajadah panjang, muka bumi. Tak ada interupsi! Tak ada intermezo keluar dari jalur sajadah panjang. Tak ada…

Maaf, Ibu-ibu, belakangan ini tulisan saya jadi serius. Saya diingetin teman, perempuan lebih suka pemikiran praktis-praktis saja. Tapi persoalan bangsa ini, kebersamaan bangsa ini, sudah demikian parahnya. Penyelesaiannya tak bisa lagi cuma dengan dasar pikiran praktis.

Saya harus kembali mengimbau, terutama kepada saya sendiri dan keluarga, bangsa yang carut-marut ini bisa perlahan ditata jika semakin banyak orang merasa bahwa seluruh aktivitas dunianya terselenggara di atas sajadah panjang. Seluruhnya jadi bagian yang sah dari sembahyang panjangnya. Artinya, aktivitas itu harus bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang atau paling apes, tidak merugikan sesama.

***

Dan kenapa saya harus matur ke kaum ibu tentang dasar pemikiran nggak praktis ini? Karena perempuan secara umum, lebih cenderung mikirin keluarganya sendiri. Salah-salah, kalau nggak kuat banget prinsipnya, suami juga bisa kebawa cuma mikirin keluarga.

Ini nggak salah. Mungkin alami ya…Mungkin emang sudah kodratnya. Kalau saya lihat siaran flora dan fauna, betina memang cenderung jauh lebih protektif terhadap anak-anak ketimbang yang jantan. Betina jauh lebih ganas dan beringas ketika mempetaruhkan hidup keturunannya.

Tapi dalam situasi orang saling ber-jibaku mikirin diri sendiri dan kehidupan berbangsa jadi nyaris remuk ini, saya tak melihat jalan keluar lain. Titik terang penyelesaian masalah itu cuma saya lihat ketika kaum ibu mengikhlaskan diri dan suaminya, untuk lebih berguna bagi banyak orang. Tak cuma mikirin keluarganya.

Waduh, ruang tulisan hampir abis. Saya sambung pekan depan saja. Semoga Ibu-ibu masih punya waktu lagi buat baca. Saya akan kasih contoh-contohnya.

Banyak contoh, ibu-ibu yang mikirin masyarakat, asal tanpa pamrih, suaminya jarang selingkuh. Jarang kemalingan. Hantu di rumah pergi tanpa perlu bantuan gaib. Anak-anak jarang sakit serius. Tunas-tunas hari depan itu akan mendapatkan rezeki dari masyarakat juga. Abis ini ya? Swear.

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan
*Dapatkan SMS berlangganan dari Dalang Edan Sujiwo Tejo tentang cara berbagai hal dipandang dari dunia pewayangan. Caranya, ketik reg pde1, kirim ke 9388, Tarif Rp 1.000/SMS. Apabila Anda ingin berhenti, ketik unreg pde1, kirim ke 9388
*Tulisan ini diterbitkan di Harian Seputar Indonesia, 24 Agustus 2007

Sunday, August 19, 2007

Kalau Anjing Bisa "Ngomong"

Saya tanya ke anjing. Kamu cinta nggak ma manusia? Anjing menjawab: Ah lo pura-pura kagak ngarti ya?

Bukan gitu. Persoalannya saya kurang yakin aja. Saya cuma pernah dengar. Di Jepang, di depan suatu stasiun kereta api, ada saudaramu yang lama bengong di situ. Nggak mau makan-minum. Menunggu karib manusianya pulang. Ternyata manusia itu curang. Dia nggak pernah pulang. Anjing itu pun mati di depan stasiun. Iya, kan?

“Ah, guk guk guk…sebenarnya legenda besar itu cuma contoh kecil dari besarnya cinta kami pada manusia…guk guk guk…”

Ya, udah. Gak usah judes gitu. Sekarang ganti saya tanya aja pada manusia. Sampeyan semua bener-bener cinta nggak sih ma anjing? Atau cuma sekadar style? Sama halnya sampeyan nggak cinta sungguh ke kekasih, tetapi berusaha menggaetnya agar bisa gaya di depan khalayak? Terutama di pesta-pesta sehingga sampeyan ma pasangan dijepret wartawan foto, masuk tuh ke majalah-majalah pesta yang kini makin marak?

Iya. Iya. Saya tahu. Sampeyan telah bersusah-payah buat anjing. Rela merogoh sampai Rp 200 ribuan untuk anjing Kintamani anakan aja. Atau sampai Rp 1 juta kalau usianya udah 3 bulanan. Belum buat parfum anjing yang berkisar Rp 20 ribuan untuk produk lokal dan sampai Rp 100 ribuan buat pewangi impor.

Saya tahu itu. Belum untuk anjing jenis lain yang harganya bisa sampai puluhan juta rupiah. Belum biaya salonnya. Belum kalau tiap bulan mesti ke Singapura belanja perlengkapan dan kebutuhan anjing. Ada yang mengaku rata-rata sekali belanja abis sekitar Rp 5 jutaan.

Saya tahu itu. Apalagi ajakan buat mencintai anjing juga makin marak. Najis atau nggak-nya anjing juga banyak yang menafsir ulang. Setahu saya tokoh kebangsaan dari kalangan Islam seperti almarhum Nurcholish Madjid juga nyaranin kita mencintai anjing.

Itu pula ajaran Cak Nur, panggilannya akrab, kepada keluarganya. Di lingkungan RT/RW-nya, keluarga ini dikenal sebagai penyayang hewan termasuk anjing. Prinsip, tak ada ciptaan Tuhan yang hina, apalagi telah terbukti anjing berjasa pada keamanan lingkungan dari kriminalitas.

Ya. Duit udah keluar buat anjing, sampai ke urusan perawatan kuku. Saran untuk mencintai anjing, dalam arti juga nggak mendiskriminasikan ciptaan Tuhan sudah kerap kita dengar. Tapi kembali ke pertanyaan: Sampeyan bener-bener sudah cinta anjing nggak?

Kalau ke Puntadewa alias Yudhistira dalam wayang, saya sudah nggak perlu tanya itu lagi hehe…Cintanya pada anjing sudah proven. Oleh penjaga gerbang sorga, Yudhistira dilarang masuk firdaus itu kalau ia terus bersama anjing yang tiba-tiba mengikutinya.

“O, ya sudah,” jawab sulung Pandawa ini, “Kalau gitu ndak usah masuk surga aku juga ndak patheken. Anjing ini aku nggak tahu siapa namanya. Tiba-tiba ikut aku sejak aku menjelang mati. Setelah di depan sorga ini aku tidak mungkin menghardiknya pergi. Mending aku masuk neraka saja…”

O, bumi gonjang-ganjing…Bareng dengan ucapan lirih Sang Puntadewa itu, anjing yang bernama Lingga-Maya kembali ke wujudnya yang sejati, Dewa Darma.

Eh, sori, kegoda wayang sampai lupa, saya tadi nanya apa ya ke sampeyan?

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan

*diterbitkan di rubrik "Frankly Speaking" - area magazine, edisi 93 / Agustus 2007

Nuklir dan Helm Kambing

Ibu-ibu, saya ketik tulisan ini menjelang berangkat ke Semenanjung Muria, Jawa Tengah, tempat bakal dibangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Kira-kira 40-an km dari Jepara. Tepatnya di kecamatan Kembang, Desa Balong, di kawasan yang dipercaya sebagai petilasan Wali Syech Siti Jenar.

Sore sebelumnya saya di-SMS bahwa masyarakat Balong minta lakon Dewa Ruci ditambah jadi Dewa Ruci Tolak PTLN. Wah, bagi saya lakon asli “Dewa Ruci” jadi kebablasan gaul kalau mesti diimbuhi “tolak PLTN”.

Ini kan lakon agak sakral, tentang pertemuan Bima dengan Tuhan, sama halnya mitos tentang Syech Siti Jenar yang manunggal dengan Tuhan (lantas disalah-tafsirkan oleh masyarakat pada masa itu).

Ini kan lakon yang tema dominannya soal sembahyang tertinggi. Bahwa puncak sembahyang bukanlah formalitas menyembah, tapi berbuat kebajikan buat orang banyak.
Dalam segi lakon Dewa Ruci, untuk konteks Indonesia, sembahyang tertinggi hari ini adalah membuka lapangan kerja, memperbaiki pendidikan misalnya melalui perjuangan agar anggaran pendidikan mencapai minimal 20 persen APBN sesuai Undang-undang, menyelenggarakan rumah sakit dan obat-obatan untuk kalangan tak mampu dan sebagainya.

Itulah sari pati cerita Dewa Ruci. Tapi ya udahlah. Kompromi. Saya usul, dan akhirnya diterima masyarakat Balong, lakonnya jadi Dewa Ruci Mikir Nuklir. Karena menolak PLTN di zaman kayak gini agak riskan.

Gimana mau nolak? Negara yang pengin maju mesti punya tenaga nuklir. Perdamaian kan terwujud kalau setiap negara di dunia punya senjata andalan. Bukankah dosen kewiraan kita dulu bilang, kalau ingin damai bersiaplah perang. Maksudnya, kalau setiap negara punya gigi, negara lain tak akan seenaknya main serang.

Saya kira kok soalnya bukan menolak PLTN. Soalnya cuma memikirkan, apakah tabiat bangsa ini sudah memenuhi syarat untuk mengelola nuklir yang penuh risiko itu? Ya soal disiplinnya. Ya soal kebutuhan akan rasa amannya. Dan sebagainya.

Wong kecelakaan transportasi bolak-balik terjadi. Gara-garanya ya balik ke situ-situ lagi. Faktor manusia. Ya kelengahan pengemudi (pilot, masinis). Ya kelengahan perawatan mesin maupun pengaturan jalur.

Saya khawatirnya PLTN ini jadi kayak demokrasi. Mentang-mentang demokrasi lagi musim, dan didukung mitos bahwa demokrasi adalah yang terbaik di dunia, maka semua negara ikut-ikutan demokratis.

Padahal, seperti berkali-kali saya matur di forum ini, syarat demokrasi itu tingkat pendidikan masyarakat relatif tidak terlampau timpang. Doktornya banyak. Tapi jauh lebih buanyak lagi yang nggak tamat SD dan buta huruf. Perbedaan tingkat kekayaan masyarakat juga tidak terlalu njomplang.

Sebelum syarat itu terpenuhi…ya…bentuk formalnya sih demokratis. Tapi pemilih akan terus-menerus dibodohi oleh partai dan calon-calon pemimpin. Dan yang jadi pemimpin eksekurif maupun elite partai adalah orang-orang dari jaringan kelompok kaya-raya yang itu-itu juga.

Dalam konteks ini, dan 62 tahun merdeka, kasak-kusuk yang makin santer agar kita balik lagi ke bentuk kerajaan perlu kita beri perhatian serius.

***

Sekitar 2 pekan lalu, di Blok M, Jakarta, saya melihat ada helm asyik. Bukan saja pelindung kepala ini dilapisi bulu kambing. Gila, sekalian tanduknya dipasang. Sekali lagi asyik. Saya seneng juga lihatnya. Ini cara yang baik buat mengusir stres, baik stres yang menonton maupun yang jadi tontonan, stres karena Indonesia gini-gini terus.

Tapi, Bu, kalau dia terjungkal, dan yang kena aspal duluan adalah ujung tanduk, bukannya leher si orang asyik itu lebih mungkin patah? Kenapa juga otoritas yang mengatur tertib berkendara, polisi, tak ambil tindakan?

Itu di darat, Bu. Di udara, bukannya dalam 62 tahun merdeka ini kita masih sering lihat orang naik menara, membetulkan listrik atau apa, telanjang kaki dan tanpa sabuk pengait. Bukan itu saja, satu tangannya biasanya masih sempat-sempatnya pegang rokok. Dia bergelayutan di ketinggian rangka besi sambil klepas-klepus ngeluarin asep.

Yang ini juga bukan di darat. Tapi tak terlalu tinggi seperti di menara. Yaitu di atas gerbong kereta api. Saya selalu heran kenapa ini nggak ditambahkan pada Tujuh atau Delapan Keajaiban Dunia. Ajaib dong! Di atas gerbong mereka bisa berbaring tidur, tanpa pembatas atau penghalang yang bisa menahan pergeserannya akibat kemiringan rel dan gaya lontar ketika kereta api belok.

Kalau Ibu-ibu pedagang sayur pasar pagi masih mending. Mereka tidur di bagian paling belakang mobil bak, di atas tumpukan sayur. Tapi kan sayur beda ma atap gerbong. Atap gerbong lebih masif. Sayur masih ada empuk-empuknya dan “nelan” badan, sehingga orang yang tidur di atasnya relatif lebih terlindung untuk kegeser atau terlontar.
Dan masih banyak contoh lain.

***

Menolak PLTN berarti menunggu masyarakat siap. Masyarakat siap, prosesnya bisa dibiarkan alami. Atau proses itu tidak diserahkan ke alam penuh-penuh, jadi tidak alami, tapi diberi sentuhan kebudayaan dikit. Jadi cepet.

Dari hal yang kecil-kecil aja. Yang penting menempa disiplin dan mempertinggi kebutuhan akan rasa aman. Misalnya, Ibu-ibu selalu wanti-wanti dan keras kepada anak, agar setiap buka pintu mobil, mereka harus menengok ke luar-belakang mobil lebih dulu. Setiap mau nutup pintu mobil, mereka harus menyapukan mata ke rangka pintu karena sering kali ada jari atau lengan dari penumpang depan atau belakang. Sering juga masih ada betis orang karena tumit masih di aspal.

Kalau Ibu-ibu keras, lama-lama anak-anak akan punya naluri itu setiap buka-tutup pintu mobil. Punya naluri serupa untuk aktivitas lain yang lebih luas sehingga kita siap ber-PLTN.

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan

*diterbitkan di Harian Seputar Indonesia - 18 Agustus 2007

17 AGUSTUS-AN DI SEMENANJUNG MURIA

Dikarenakan adanya undangan mendadak yang baru dikonfirmasikan Jumat kemarin ini (10/8/07), maka Sujiwo Tejo bersama Bintang Indrianto dan sahabat-sahabatnya, dengan sangat terpaksa membatalkan penampilannya ber-17-an di MoE-Jazz&Lounge, Bintaro Jaya sektor 3A, pada Jumat 17 Agustus malam.

Rombongan "Presiden YAIYO" yaitu Sujiwo Tejo bersama "Menhankam/Pangab" Bintang Indrianto dengan deretan para "Kepala Staf"-nya yaitu Kiki Dunung-Taufan Irianto-Imam Garmansyah akan tampil di Semenanjung Muria, sekitar 40km dari kota Semarang, pada tanggal 17 Agustus 2007.

Pada 16 Agustus siang, rombongan akan berziarah ke makam Syeikh Siti Jenar. Lalu malamnya, Sujiwo Tejo akan melakukan wayangan, mendalang, dengan mengambil cerita, Dewa Ruci.

Menurut Sujiwo Tejo, dirinya dan grup diundang untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI di Muria, dimana pada 17 Agustus pagi hari mereka juga akan turut serta dalam upacara bendera.

Penampilan "Presiden YAIYO" di Muria, semata-mata bukan karena mereka memilih "berpihak" kepada para penentang pembangunan PLTN Muria, tapi karena kehadiran mereka untuk mengajak semua pihak bersukacita saja, "Mari sama-sama kita bergembira, ikut merayakan 17-an. Saya memilih berada di tengah-tengah, saya menghargai perbedaan pendapat. Berbeda pendapat boleh saja, asal semua dilakukan dengan saling menghormati dan saling pengertian."

Intinya, menurut Tejo, mereka memilih berada di tengah-tengah rakyat di kawasan Muria sana. Kita datangi mereka, dan kita ingin sekali menghibur mereka.

Menurut Sujiwo Tejo dan disetujui pula oleh Bintang Indrianto bahwa, "Presiden YAIYO" tetap merencanakan "mengunjungi dan menghibur" rakyat seputaran Bintaro di MoE-Jazz&Lounge pada acara JAZZIEST-Night, kemungkinan dijadwalkan pada Jumat, 31 Agustus 2007.

”Bintaro tetap kok akan dikunjungi karena rakyat di sana pasti juga butuh hiburan dari kami kan?”, ucap Tejo. Dan, tambah Bintang, karena memang acara jazz di sana cukup menarik dan kami tertantang banget untuk nge-jazz abis di acara itu. "Tentu saja, jazz-nya Presiden YAIYO dong. Eh apa bener sih kita ini nge-jazz, aku gak ngerti sebetulnya.....," ucap Tejo lantas tertawa, dan Bintang pun juga ikut tertawa lebar.

Oh ya, juga disampaikan kabar gembira, yang sangat patut untuk disyukuri bahwasanya album YAIYO sudah masuk cetakan ketiga! Pada akhir minggu ini sudah masuk lagi order 1000 CD tambahan, dikarenakan 2000 CD sebelumnya sudah habis terjual. Terima kasih banyak untuk seluruh pencinta musik yang sudah memberikan respon positif dan perhatiannya kepada album YAIYO.

Thursday, August 16, 2007

REVIEW KONSER YAIYO (2)

PRESIDEN YAIYO Bertemu Rakyat
Mengajak Damai dan Tersenyum Ramai Ramai

JAKARTA, YAIYO – Harapan masih ada, ucap lantang Presiden YAIYO di hadapan masyarakatnya. Masih akan ada (Harapan), tegas Presiden YAIYO, yang mendapatkan sambutan riuh dari masyarakat yang memenuhi lapangan alun-alun ibukota, Jakarta, kemarin siang.

Permintaan sang Presiden, agar semua elemen masyarakat tetap semangat, terus berjuang tapi tetap santai. Janganlah saling membenci, jangan saling menjatuhkan, janganlah memelihara permusuhan. Semua masalah, ucap Presiden, adalah milik semua. Bukan hanya milik golongan, keluarga, kalangan tertentu saja. Maka, lanjutnya, semua pihak tanpa terkecuali harus saling bantu membantu,melepaskan diri dari masalah tersebut.

Presiden meminta jajaran para pembantunya, para menteri kabinet YAIYO, untuk hati-hati jangan sampai mereka terlena di laut tangis rakyat. Hati-hati jangan mereka haha hihi di laut keringat rakyat. Pesan Presiden dengan tegas, sambil mengepalkan tangan Presiden berucap lantang, "Awas awaslah di gunung kesabaran rakyat". Para menteri hendaknya, mawas dirilah di gunung kesabaran rakyat!

Sementara itu, ternyata sang Presiden juga adalah pelukis. Ia pun tak ragu menjual lukisan-lukisan potret dari berbagai kalangan, dan dari situ dengan jujur dan tegas Presiden menyatakan,"Bagi mereka yang membeli lukisan saya memang karena suka, sungkan, nggak tega maupun terpaksa, terima kasih sebesar-besarnya. Merekalah produser eksekutif album rekaman saya ini."

Seorang Presiden, ketika masih aktif, menghasilkan album rekaman? Betul sekali, ini album rekaman musik. Musiknya campur sari, gado-gado, diulek jadi satu ditaburi berbagai bumbu yang kemudian diguyurkan sedikit air di atasnya….

Mungkinkah seorang Presiden menghasilkan sebuah album rekaman? Sang penata musik mengungkapkan, ia seolah seperti lahir kembali menjadi seorang menteri. Ia merasa begitu terhormat ketika diberi tanggung jawab mengatur dan "mengelola" musik untuk Presidennya. Dan ia kemudian memang diberi wewenang penuh oleh sang Presiden.

Dengan wewenang resmi di tangan, sang pengatur musik dengan sigap dan segera, melarang sang Presiden campur tangan urusan musik. Diapun melarang keras sang Presiden melanjutkan kesenangannya memainkan pelbagai alat musik. Cukup bermain trumpet selain bernyanyi, tegas si musisi. Dan sang Presiden pun mengatakan,"Dia (si musisi pengatur musik itu) adalah satu dari hanya segelintir orang yang tidak bisa, tidak sanggup saya marahi…"

Malah si penata musik melangkah lebih jauh, ia pun dengan tegas melarang sang Presiden melakukan rekaman ulang suaranya. Kabarnya, sang musisi mengaku puas dengan isian vocal yang sebenarnya "guide" vokal dari sang Presiden. Menurut sumber yang layak dipercaya, sang Presiden mengikuti begitu saja perintah sang musisi yang amat sangat dipercayainya itu.

Negara Kesatuan Republik YAIYO

Itulah sekelumit kisah dari Negara Kesatuan Republik YAIYO. Negara tetangga kita. Tapi kenapa ini malah menjadi seperti mata acara di salah satu stasiun televisi swasta? Yang pasti, yang tidak boleh melakukan take vokal lagi, untuk mencoba menyanyi dengan "benar" itu adalah sang "Presiden" yaitu Sujiwo Tejo. Mantan wartawan, dalang "kontemporer", rambut ikal panjang, sutradara pertunjukkan teater, penulis, berbadan tidak terlalu kurus, pemusik multi instrumentalis, aktor, pencipta lagu, tertawa keras ngakaknya khas….dan lalu, siapa yang tidak kenal?

Sementara sang musisi bernama Bintang Indrianto. Bassis sejak era trend musik jazz/fusion tahun 1980-an, bergabung dengan banyak grup-grup ternama, sempat menjadi session-player laris untuk show dan rekaman. Kini makin tegas dan jelas, menjadi bassis sekaligus produser musik jazz dengan hasil garapan yang kian diperhatikan khalayak ramai.

Ini adalah cerita seputar garapan album gres dari Sujiwo Tejo, yang bertajuk, YAIYO, album keempatnya. Dan kali ini memang banyak perbedaannya dibanding tiga album sebelumnya. Ia menyanyi bahasa Indonesia sepenuhnya kali ini. Ia tidak lagi mengurusi hingga sektor aransemen. Dan iapun berjuang, berjalan sendirian. Pilihannyapun, bergerilya penuh semangat. Antara lain kelihatan jelas, ia menjual album keempatnya dalam format compact disc ini dari mulut ke mulut, teman ke teman, kerabat ke kerabat.

Dijual dengan bandrol relatif murah, di bawah harga yang umum untuk sebuah produk album musik lokal versi compact disc. Niatnya, biar supaya lebih banyak masyarakat dapat menerima, menikmati dan terhibur oleh album keempatnya ini. Sebuah langkah jelas yang jadi pembuktian ampuh, bahwasanya musik dalam albumnya kali ini memang mengajak rakyat semua bersama-sama menghibur diri. Bukankah menghibur diri juga adalah hak setiap rakyat?

YAIYO Anak-Anak dan YAIYO Kritik Sosial

Menyoal kemasan musiknya, yang digarap seksama oleh Bintang Indrianto, memang beragam unsur-unsur musik dapat terasakan bunyi-bunyiannya. Aneka macam musik dicampur jadi satu, diblend dalam waktu cukup, dan lantas siap dihidangkan! Pada banyak lagu, ada pola melodi dolanan anak-anak, diambil dari berbagai macam etnis, yang menjadi dasar lagu. Tak heran, kalau saja ingatan kita masih baik, kemungkinan telinga kita akan langsung cepat menjadi akrab.

Dolanan anak-anak menjadi fondasi dasar untuk bangunan kritik sosial yang bertebaran di semua lagu karya Sujiwo Tejo kali ini. Menurut sang Presiden eh Sujiwo Tejo, ia melihat sekeliling, lagu-lagu kritik sosial belakangan tak lagi terdengar. Tapi, lanjutnya, bukan lantas kritik harus pedas, menyerang dan mengoyak-oyak. Bukan lagi jamannya saling serang menyerang berapi-api, sudah tidak masanya lagi menyuburkan permusuhan!

Kritik sambil tetap santai, penuh canda, rasanya jauh lebih nikmat. Tidak perlu menampar tapi lebih bijaksana menggelitik saja. Jadi semua pihak bisa tersenyum. Kalau senyum terus disunggingkan, maka kedamaian akan lebih terasa. Damai yok Damai, tersenyumlah ramai ramai….Itulah ajakan Sujiwo Tejo. Bintang menimpali, kritik tapi dengan swing dan blues jadi bakalan tetap sejuk dan nyaman deh….

Kali ini Sujiwo Tejo dikawal oleh Bintang Indrianto berikut para "Kepala Staf Musisi"nya. Seperti Taufan Irianto Makasar, "Kepala Staf" drums. Ada lagi Imam Garmansyah Bandung, "Kepala Staf" keyboard. Kemudian masih ada "Kepala Staf" perkusi kendang dan saksofon. Dan 10 repertoar baru Sujiwo Tejo mengisi album keempatnya, yang sebagian besar telah disiapkan untuk dihidangkan kepada para penonton malam minggu, 4 Agustus kemarin.

Oh ya, malam kemarin itu adalah konser akrab "Sang Presiden YAIYO" di ibukota. Setelah menggaet sukses dalam kesempatan konser di Surabaya lalu Solo dan Malang, lengkap dengan cerita "bonus" berhasil menjual 1000 keping compact disc dalam kurun waktu seminggu saja! Maka kini giliran ibukota Jakarta nan metropolitan yang disinggahi, bukan untuk melakukan "sekedar" temu wicara apalagi menggelar acara kelompencapir, tapi untuk mengajak publik ramai ramai bersukacita bareng, sama sama menghibur diri.

Konser Akrab Presiden Yaiyo ini terselenggara atas kerjasama Semarmesem dengan Toba Dream Family Café, dengan didukung Indiejazz. Tak lupa berkat dukungan dari Otomotion 97,5FM, C n J 99,9 FM dan Pro2 FM 105. Dan turut "bergabung", "panglima" tamu yang tak kalah sohor namanya, Viky Sianipar.

Dan bagaimana kejadian sesungguhnya dari konser Saturday Night itu? Yang pasti, Sujiwo Tejo berkostum putih-putih asyik bergoyang, berjoget, melompat dan tetap tertawa lebar. Aktif mengajak penontonnya terus sukacita, ikut bergoyang. Penonton menimpalinya dengan keplok-keplok tangan berirama mengikuti lagu, atau juga tertawa ramai menyambut guyonan dan sentilan Tejo.

Tejo lantas berganti kostum sarung hijau, lalu sempat bertelanjang dada. Sujiwo Tejo sempat-sempatnya pula memanggil Emha Ainun Najib untuk didaulat membawakan puisi, dan dijawab Emha nggak siap nanti saja. Emha malah digiring Tejo "berdakwah" segala. Lalu juga Jenderal Wiranto yang purnawirawan digaetnya naik pentas, biasalah berpidato sejenak dan bilang tidak sedang berkampanye, lalu mengalunlah lagu `Tuhan'nya Bimbo oleh beliau. Para musisi mengiringi sangat jazzy dan "usil", jenderalpun menebar senyum.

Di deretan penonton masih ada Sukardi Rinangkit dari Soegeng Sarjadi Syndicates, ada wakil-wakil dari petinggi Negara ini, ada beberapa artis seperti Sita RSD hingga Inggrid Wijanarko dan Sumita Tobing. Lalu tentu saja terselip puluhan fans "fanatik" Sujiwo Tejo, ada yang datang dari Bogor, Bekasi bahkan Tangerang dan Serang!

Sang "Presiden YAIYO" tak sanggup berkata-kata lagi hanya bisa kembali menebarkan senyum lebar dan tertawa ngakak khasnya. "Panglima" Bintang Indrianto juga hanya melempar senyum, begitupun halnya dengan para "kepala staf musisi" lainnya. "Panglima tamu" Viky Sianipar, notabene dia juga adalah sekaligus pemilik tempat pertunjukkan tersebut, dengan baju "pinjaman" dari sang "Presiden YAIYO" juga hanya dapat tertawa dan sibuk menyambut uluran ucapan selamat para penonton.

Sayangnya, acara sukses begini ternyata luput dari perhatian teman-teman wartawan, baik itu dari kalangan media cetak maupun media elektronik. Kemungkinan dikategorikan sebuah acara biasa yang dianggap tidak penting untuk disaksikan. Sangat biasalah, untuk jenis musik-musik "pinggiran" atawa musik segmented, sebuah pola pandang yang selalu dipelihara terus jaman ke jaman. Tema sentral penampilan Sang PRESIDEN dengan musik jazz, agaknya bukanlah sesuatu yang menarik. Apalagi hanya seorang "PRESIDEN YAIYO" yang nge-jazz, nge-blues, nge-progressive....

So, what's next, Mr. President? Well, anjing menggonggong kafilah jalan terus, malah ngebut....Di depan mata, menurut juru bicara kepresidenan Yaiyo, ada jadwal menyinggahi lagi beberapa kota bahkan tengah digodok kemungkinan Presiden YAIYO melakukan "perlawatan" ke Sulawesi, terutama Makassar dan Donggala dalam waktu dekat ini. Menurut sang jubir, Presiden sangat berkeinginan menjumpai rakyatnya dimanapun berada, agar supaya semuanya bisa "berjuang tapi tetap santai, bisa tetap tersenyum ramai-ramai, karena harapan masih ada…." /dM

Wednesday, August 15, 2007

REVIEW KONSER YAIYO (1)

Buat teman2 yang tidak sempat datang menyaksikan aksi Sujiwo Tejo dkk., berikut ini adalah salah satu review Konser YAIYO dari Sujiwo Tejo. Terima kasih mas Fahroni atas perkenannya mengambil review buatan mas. Buat teman2 penggemar Sujiwo Tejo, bolehlah berkunjung ke website mas Fahroni: www.fahroniarifin.com. Asyik website-nya....:)
Kalau ada teman2 lain yang juga bikin review, silakan kasih info ke saya, nanti saya hubungi untuk mempublikasikannya juga di blog ini.


NONTON SUJIWO TEJO LAGI
by Fahroni Arifin
(http://fahroniarifin.com/nonton-sujiwo-tejo-lagi.htm)


Karena kesepian ditinggal ‘liburan’ Fifi & Zidan ke Bandung selama 2 minggu, Sabtu malam saya cari-cari acara. Beruntung ada launching album terbaru Sujiwo Tejo, ‘YAIYO’, di salah satu kafe di Tebet. Sudah lama saya tidak pasang radar atas seniman satu ini meski album pertamanya masih sering saya putar. Perkenalan saya dengan lagu-lagu Sujiwo Tejo dimulai sejak SMA, saat album pertama ‘Pada Suatu Ketika’ keluar. Waktu itu diantara teman main SMA cuma saya pendengar Tejo. Ia memang artis yang pasarnya segmented dan tidak populer dikalangan generasi Pop. Dan padatnya aktifitas saat kuliah mengalihkan pantauan saya atas album-album berikutnya.

Karena tidak mengikuti evolusinya, saya tersentak dengan ekspresi dan eksplorasi Tejo di album terbaru ini. Ia menunjukkan kebebasannya yang liar, hampir seluruh lagu berbalik menentang selera umum. Lewat jalur indie, album terbaru ini diproduksi swadaya dan diedarkan dari mulut ke mulut dengan harga yang hampir BEP, jelas nekat. Ini hiburan untuk kelas bawah jadi harus murah, katanya. Ia tidak kompromi dengan label besar yang biasanya mengatur-atur isi dan nilai sebuah album. Ketika seniman atau artis lain kehilangan jati diri dan idealismenya seiring kesuksesan, Tejo malah bersikap sebaliknya. Awalnya saya pikir ia sudah kaya dari hasil main film atau ngelukisnya sehingga nggak butuh duit dari nyanyi, ternyata nggak juga. Ceplas-ceplos dia bilang masih sulit mendanai tur gerilyanya.

Sangat jauh dengan album pertama yang kontemplatif dengan syair Jawa bermakna dalam -meski beberapa lagu kocak dan nyinyir khasnya Tejo-, ‘YAIYO‘ cenderung emosional dan literal. Semuanya tentang kritik sosial yang dibawakan pedas dan tanpa kalingan (terhalang). Ia bahkan menyebut ada satu lagu yang kalau dinyanyikan Live akan menyebabkan revolusi, akhirnya dalam sesi malam itu lagu tersebut hanya diputarkan rekamannya. Ada-ada saja, tapi itulah Tejo, seniman multi talenta yang berandalan dan membebaskan diri dari ikatan-ikatan.

Mungkin karena tidak dibayangi tuntutan label, album ini digarap dengan sebebas-bebasnya. Bintang Indrianto, bassis ternama yang dipercaya menata aransemen, secara liberal memasukkan bunyi-bunyian dari beragam suasana dan etnis. Diaduk senikmat kopi-karamel-krim-decaf yang saya sruput malam itu. Kabarnya Sujiwo Tejo selaku pemilik album tidak boleh melarang atau mencampuri arahan Bintang. Selain itu terlibat juga Viky Sianipar, musisi muda yang fokus pada musik etnis-kontemporer, menambah keragaman. Hasilnya adalah album yang merdeka baik musik maupun isinya.

Kalau Anda seperti saya yang tidak mengikuti metamorfosa Tejo, akan butuh waktu untuk beradaptasi dengan album ini. Karena saya yakin selera semua fans Tejo, terlayani oleh album pertamanya. Tapi bagaimanapun, album ini justru menunjukkan ekspresi Sujiwo Tejo yang sebenarnya, hanya masalah waktu sampai fans sejatinya menyukai. Dan sebagai produk budaya, album ini berada pada level tersendiri yang layak diapresiasi. Untuk mendapat hidangan yang lezat, kadang kita harus belajar melepas ego dengan tidak mendikte seniman atas karyanya dan menerima suapan apa adanya.

Tuesday, August 07, 2007

Lain "Liyan" Lain Orang Lain

Ibu-ibu keseluruhan, tanpa kecuali, seingat saya dalam forum di Seputar Indonesia ini, sudah lumayan sering saya singgung kian mendesaknya mikirin orang lain. Kini mohon maaf saya masih nggak bosan-bosan juga mengulang tema itu meski dalam varian lain. Abis mo gimana lagi? Ya masih ini-ini pula inti persoalan bangsa. Bahwa kita, termasuk saya, masih juga tak kunjung mikirin orang lain.

Yang kita hirauin melulu diri sendiri. Yang senantisa belibet di benak kita cuma bagaimana membangun keluarga. Paling jauh ya saudara. Bukan di luar itu. Bukan other. The other. Atau orang pedalangan Jawa bilang liyan.

Suku-suku lain, dengan bahasa yang lebih tua ketimbang bahasa Indonesia, tentu punya kata-kata sendiri buat liyan. Yang nggak ada dalam bahasa Indonesia. Maklum, bahasa Indonesia relatif jauh lebih muda dibanding rata-rata bahasa daerah di nusantara.

Sengaja tidak saya rujuk terjemahan other itu ke dalam bahasa Indonesia, misalnya “orang lain”. “Orang lain” bukan kata, tapi kata majemuk, alias gabungan dua kata. Saya nggak sreg menerjemahkan kata dari suatu bahasa ke dalam gabungan kata dalam bahasa lain. Alasannya, secara umum, kata majemuk atau kata bentukan kurang memiliki akar budaya yang kuat pada cara berpikir dan penghayatan hidup suatu kaum.

Ajakan buat mikirin orang lain, salah-salah bisa mudah dipatahkan oleh para penentangnya. Buat apa merhatiin mereka? Dan atas dasar apa kita harus mikirin mereka? Bukankah tanggung jawab kita cuma pada diri sendiri dan keluarga serta sanak-famili?

Ajakan buat mikirin liyan agak susah dipatahkan oleh yang berseberangan pendapat. Karena di dalam liyan terkandung makna diri kita sendiri. Ada diri kita di dalam liyan. Di dalam liyan ada…

Ah, Ibu-ibu tanpa kecuali, saya barusan merasa seakan-akan ditowel oleh Bagong, panakawan dalam wayang. Dia ngingetin saya agar bertahap-tahap dalam menyampaikan pendapat. Alasan Bagong, tidak seluruh Ibu-ibu sedang jernih pikirannya untuk bersedia cepat memahami perbedaan orang lain dan liyan.

Menurut Bagong, tanggung-jawab ibu-ibu seabrek-abrek. Jadi pikirannya susah bening. Ruwet ngatur belanja bulanan. Kepikiran karena anak ke sekolah ketinggalan salah satu bukunya atau kaus kakinya. Belum lagi kalau suaminya tiba-tiba cepat tersinggung. Tersinggung sedikit demam. Tersinggung lagi, masuk rumah sakit. Wah...

***

Baiklah Ibu-ibu, saya akan menyajikan contoh, bahwa kita tak bisa menerjemahkan “liyan” yang cuma satu kata itu menjadi “orang lain” yang terdiri atas dua kata. Karena di balik setiap kata ada konsep yang berawal dari akar budaya suatu kaum. Arti “liyan” sama dengan “orang lain”, namun pemikiran dan penghayatan hidup suatu kaum terhadap kata tersebut berbeda.

Sebagai contoh, sister bisa aja kita terjemahkan menjadi saudara perempuan. Artinya sejenis. Tapi akar budaya yang melahirkan arti keduanya berbeda. Sister lahir dari budaya yang juga mementingkan informasi jenis kelamin dalam hubungan keluarga.

Saudara perempuan lahir dari budaya yang lebih mengutamakan info akan hubungan darah dalam keluarga. Bahwa yang punya hubungan darah itu jenisnya laki atau perempuan, ya urusan belakanganlah.

Malah, lebih penting ketimbang ngurus apakah dia lelaki atau perempuan, adalah ngurus dia itu lebih tua atau lebih muda. Kalau lebih tua kakak. Lebih muda adik. Nah, sekarang gantian bahasa Inggris nggak punya konsep itu. Mereka pakailah kata majemuk dengan unsur “lebih tua” atau “lebih muda”, elder sister atau younger sister.

Kayaknya bahasa India punya konsep yang kuat akar budayanya untuk hubungan dengan “kakak ipar”. Bahasa Mandarin punya konsep serupa untuk jenjang dan urutan “paman”. Kayaknya lho. Kok pada film-film India maupun Mandarin yang disulih-suara saya sering melihat mulut mereka maksimal melafalkan dua suku kata, singkat, tapi suaranya dalam bahasa Indonesia terdengar panjang “kakak ipar” maupun “paman kedua”.

Tambah kelihatan aneh kalau adegannya adalah seseorang yang berlarian memburu orang lain, dengan napas tersengal-sengal dan mestinya cuma sanggup meneriakkan satu suku kata macam “Mas”, “Dik”, “Hoi”. Anehnya, si ngos-ngosan itu malah masih sempet-sempetnya menyerukan dua suku kata “kakak ipaaar” atau “Paman keduaaa”…

Arti “kakak ipar” dan apa yang terucap dalam bahasa aslinya pasti sama. Tapi konsep pemikiran dan penghayatan hidup atas kedua kata itu berbeda. Kalau apa yang ada di dalam kepala dan hati berbeda dengan apa yang terucap di mulut, ya jadi aneh. Setidaknya, dengan kepekaan sedikit saja, kita yang menonton adegan itu jadi merasa janggal.

Begitu pula “orang lain” dan “liyan”. Pada “orang lain” kita tidak melihat “aku”, tapi pada “liyan” kita selalu mengamati seksama bagian mana dari dia yang merupakan diri kita sendiri. Ya, pasti tidak seekstrem perhatian ketika kita berusaha mencari-cari keberadaan kita sendiri kalau kita sedang mengamati anak kandung.

Terima kasih kepada Mbak Dewi Soedardjo yang cantik, pemimpin persekutuan doa di kawasan Cipete dan pekerja sosial, yang mengilhami tulisan saya. Yang membuat saya juga makin yakin bahwa tidak seluruh ibu-ibu cuma mikirin keluarganya, di tengah bangsa yang entah umurnya tinggal berapa panen jagung lagi ini saking kiran rapuhnya sikap kebersamaan.

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan
*diterbitkan di Harian Seputar Indonesia, 03 Agustus 2007

Wednesday, August 01, 2007

"Pilkadal" Jakarta: Kendaraan Rakyat vs Tembang Kemenangan

This article / column had published in "Frankly Speaking" AREA Magazine,
Edition No. 92, August 2007. Sujiwo Tejo write regularly every two-week for this free magazine. Hope you all will enjoy this...:)

-------------------------------------------------------------------------------------

“PILKADAL” JAKARTA:
KENDARAAN RAKYAT vs TEMBANG KEMENANGAN

Siapa bilang Pilkada DKI Jakarta ndak menarik? Mungkin bagi segelintir tokoh, iya. Ndak asyik.

Pengamat politik Saiful Mujani dari Lembaga Survei Indonesia bilang Pilkada DKI sekarang cuma ritual politik. Demokrasi cuma diatasnamakan. Partisipasi pemilih tak lantaran keyakinan pada pilihannya.

Sejawat saya lainnya, Indra J. Piliang, peneliti dari CSIS, bikin ramalan. Wah, bakal tambah banyak lho golongan putih alias Golput di Pilkada DKI kali ini. Ramalan atau tepatnya prediksi itu pakai dasar. Dasarnya, kian banyak warga DKI Jakarta, lebih 70 persen, tidak bener-bener ngerasa punya partai.

Ah, apapun kata Saiful, apapun kata Indra, Pilkada DKI Jakarta bagi saya kok tetap menarik. Terutama untuk iseng-iseng aja daripada bengong ngisi waktu kemacetan lalu lintas Jakarta. Misalnya iseng-iseng utak-atik nama. Fauzi, calon nomor 2, itu apa. Daradjatun, calon nomor 1, itu apa.

Aduh jadi nyesel dulu saya mondok di pesantren cuma sebentar. Jadinya Bahasa Arab saya pas-pasan. Tapi seingat saya, mohon dikoreksi kalau keliru, Fauzi berarti “kemenangan”. Daradjatun dari “darojah”, kalau tidak salah lho, artinya sekitar…yaa…kendaraanlah.

Bowo itu kalau di wayang atau gamelan artinya semacam tembang awal tanpa beat sebelum masuk lagu yang ber-beat. Katakanlah intro. Adang ini yang saya agak jatuh bangun bisa tahu artinya. Wong Bahasa Sunda saya pas-pasan. Tapi, dari 10 tahunan saya tinggal di Bandung, kesan saya Adang itu punya konotasi kerakyatan. Julukan atau nama-nama rakyat.

Artinya yang lagi bertarung dalam Pilkada DKI Jakarta kali ini adalah Kendaraan Rakyat dan Tembang Intro Kemenangan. Wah seru juga. Horeee…tepuk tangan dong. Tengkyu tengkyu…

Jadi siapa bilang Pilkada DKI Jakarta tidak menarik? Gila. Menarik dong? Bayangkan kendaraan yang dipercaya oleh rakyat, artinya menang karena mewakili suara rakyat, bertarung ama tokoh yang pasti menang juga karena arti nama tokoh itu aja udah gita keunggulan.

(Mohon kalau nanti ada koreksi dari pembaca atas Bahasa Arab dan Sunda saya, jangan terlalu jauh dari arti itu ya? Hehe…karena dalam iseng-iseng Pilkada ini saya udah terlanjur suka pada arti menurut versi udel saya sendiri.)

Hanya sandiwara politik kalau merujuk pendapat Saiful Mujani? Atau bakal meningkatnya Golput kayak di Medan, Lampung dan Surabaya, seperti kata Indra? Lantas kita bilang Pilkada ini pahit atau tidak menarik?

Ya, namanya juga Pilkada, Ndra, Ful. Kalian ngerti nggak sih? Itu kan dari pil atau obat. Pil kan umumnya juga pahit. Marilah kita telan sama-sama kepahitan ini dengan hepi. Ya Ndra? Ya Ful?

Masih untung warga DKI…aduh maaf saya kok masih juga nggak ngerti bedanya DKI, pemda, pemprov…. Pokoknya kawasan yang dari dulu gini-gini ajalah…Ya, masih untung penghuni DKI Jakarta ndak semuanya bayi yang cadel, yang kalau bilang “daerah” pasti “daelah”. Singkatannya jadi Pilkada, bukan Pilkadal. Jadi masih untung.

Lantas ada yang anggap pahit, kenapa keputusan Mahkamah Konstitusi tentang bolehnya calon independen ikut Pilkada baru dikeluarkan pada saat-saat pendaftaran calon gubernur sudah ditutup?

Ah, udah laaah….Telen aja kepahitan itu dengan hepi. Dengan nama Pilkada aja, bukan Pilkadal, itu udah langkah maju kok…Serius nih.

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan

Konser Akrab YAIYO: Jakarta, 4 Agustus 2007

On Saturday, August 4, 08.00 p.m
Konser Akrab YAIYO
Sujiwo Tejo & Bintang Indrianto

will be held at
TOBA DREAM Family Cafe,
Jl. Dr. Sahardjo No.25,
Tebet-Manggarai, Jakarta Selatan

ENTRY FEE = Rp 0,- (FREE!)

And get new CD album 'YAIYO" at the venue
with special price (with discount).

Or get the CD before, please call:
Angel Kusuma - 08180700660
Sumiaty - 0811183974

Good luck for Tejo...and SEE YOU THERE!

Sunday, July 08, 2007

TEJO'S CONCERT: SURAKARTA, 11 JULI 2007

Sujiwo Tejo will launch his album "BERSAMA KITA YA I YO...." in Surakarta, 11 Juli 2007 (pk. 19.30 wib) at Teater Besar ISI Surakarta, Jl. Ir. Sutami 19, Surakarta.

Friends who live in Surakarta and near that city, can come to see the music concert of Sujiwo Tejo and his group. FOR FREE!

In that performance, Tejo will supported by Bintang Indrianto (bass), Imam Garmansyah (keyboard), Kiki Dunung (tenor, sax & percussion) and Taufan Siswadi (drum).

Before the show, one day before (10 Juli 2007, pk. 10.00 wib at Teater Besar ISI Surakarta) will be held: Workshop Bass with Bintang Indrianto.

Good luck for the show, mas Tejo!

Monday, July 02, 2007

I WANT TO BE A MAN WHO ENTERTAINS

Talking about Sujiwo Tejo, we must begin with his phenomenal album in 1998 "Pada Suatu Ketika". I think this is the first album of ethnic music that achieved many award in Indonesian pop music industry. Through this album, Sujiwo Tejo named as The Best New Artist and The Best Performance from MTV Awards 1998 (the result based on people choice by polling).

So i quote 'kata pengantar' or prologue that written by him in the cover of his first album. He said that he wants to be 'a man who entertains' (in Bahasa Indonesia: Laki-Laki Penghibur)...


I WANT TO BE A MAN WHO ENTERTAINS

I would like to express my gratitude to Herwindra Aiko Senonoenoto and Djadug Ferianto. Aiko, Executive Director of PT EKSOTIKA KARMAWIBHANGGA INDONESIA, a newly-established company in the Arts industry, which is formerly a dance studio, for her willingness to become the producer of this ten-song album. Djadug, a musician, has encouraged and convinced me to perform on my own these songs, which are originally meant to be performed by other singer. Due to limited space, I am unable to mention each name one by one to whom I owe my gratitude.

Certainly, only God’s universe is able to contain the universe of all those records of credits: the cigarettes vendor who showed me the way to the recording studio at night, Those people who are involved in trivial phenomenon such as political matters and great phenomenon, like kids whining and begging for their toys, lovers missing their lovers, all of which arouse the inspiration behind several songs; people on the other side who are banging their phones, either out of annoyance or vain or are truly angry which later turn into tears to write several songs; etc.etc.etc.

I would like to express my heartfelt gratitude to those, who still can listen to and those who are already lying in their burial grounds and so are no longer able to listen to these words. Also to those who are worried, doubt or even take for granted, and those who conversely honour the life of arts creation. It is because of all these people that I am more intensely motivated and deterred from becoming an artist. Thus, I only wish to become a man who entertains.

Let God be the only Supreme Entertainer. And let artists be the people who feel that they have reached out to God, then relate those journey in their works. Let those who are angry from losing their public be the people who feel that they have produced religious works of arts from those journey, whilst on the contrary, they still fail to reach out to His Supreme Entertainment.

I remember an old saying: whoever wants to attain God, he will certainly have the world and attain God; whoever wants to have the world, he might or might not have the world, but he certainly will not attain God. My conclusion temporarily is that those who felt that they had attained God through producing works of arts they regarded as religious, but had not had the world, the public, perhaps had not attained God Himself. They merely felt that they had attained God, when they actually still had failed to reach out His Supreme Entertainment among His other Supremacy…

Well, this prologue tends to sound arrogant. When I actually only wish to express my gratitude. These people have reminded me to prefer my life to be a man who entertains. I also express my gratitude to people who have successively and cumulatively produced words, standard pattern of melody and ornamental pattern of melody, which then become the standing point of my attitude in arranging music, selecting words and composing melodies.

After completing the melody of the song, words were picked out firstly for the mere element of sound, not for their meaning, so that they harmoniously fitted the melody and rhythm. Words that fitted commonly are reselected so that chain of the words form a meaning. The form of meaning of that series of words serve only as a kind of compromise in order to become a man who entertains.

It is due to the fault of education system somewhere that when people in general listen to passages of the words, they always demand to know the meaning. Nonetheless, they have never questioned the meaning of the musical sentences from the sound of Sundanese drum, Javanese rebana, kulintang, etc. But, it is not the same with the sound of words. Only certain people listen to passages of the words as music. These people are already civilized for being able to look at words as music itself, for which the instruments are coincidentally mouth, tongue, pharynx, throat, etc.

It is for this sound consideration that the music produced by the instruments of mouth that give rise to various types of words sound is duly adjusted. For instance, words commonly used in daily life are combined with words in wayang (Javanese puppet show) world. (Sasolahe tan mesti batine or lan kinamulan esthiningtyas in The Sound of Orang Asyik; katinon kawistoro in The Frantic Age;riwe in A Prayer At Work), or the combination of pronunciation pattern from various regions (pronunciation pattern East Javanese style, Solo, Yogya, and Banyumasan in Chaos). I hope that those broadcasting stations with no regional music programmes can insert these song in their instrumental programmes. Therefore, the title of these songs are all in Indonesian language. Please read them as instrumental music titled Pleasant Entanglement, instrumental music titled The Burial Grounds, My Love, instrumental music titled At A Moment in Time. Please refer to people producing music from words not as singer, vocalist, but musician or mouth player.

Although

This instrumental is ordered by Djadug Ferianto. He wants a song with repeated one verse. Although, stated in oral language, can refer to a person’s name, it can mean although or perhaps the Supreme. Although if you are one who is free to call God by any names. Who knows you are a person who wishes to see God everywhere: in your wife, your children, lovers, butterflies, trees, and nature, maids, masters, in the president, the kidnapped people or perhaps your girlfriend is called Although and you are always trying to reach out to God embodied in her beauty, smile, cry and pinches.

Rudy Wanandar, one of the consultants of this music album, has made me realised that I have a tendency for blues. According to him, the suluk in my puppet show contains much tendency towards blues. Suddenly I remember that in 1996, when I did a coverage on Atlanta Olympic Games, I was more interested in the blues out there than the sport. And I realized that the ten music in this album have a melody pattern that tends towards blues. Hence, the intro of Although is made in this way.

The Frantic Age

I first performed this instrumental music when I was conducting my puppet show at Pupuk Kaltim, Bontang along with several singers (pesinden) from solo in 1996 with gamelan and ukulele as its accompanying music background. It all starts with a desire to compose a melody that can be comfortably performed on public buses and traffic lights. You can perform The Frantic Age with only one ukulele. Since those street music generally contain protest lyrics, I wish to offer a relative protest. It is mentioned in the lyrics that there is no difference between the past age or the next age. It can also mean that the Old Order is just the same as the New Order. When the New Order tumbled in the middle of production process, the producer was quite worried that this song will be losing its current context. I thought it over and the worry should be unfounded. For the next age will in the end ….Thus, I blend rock nuances with various other music tendency.

At A Moment in time

This musical instrumental started from a desire to form some sort of great orchestra with a vocal group commonly found among trendy people in urban society, but with its materials from regional melody. When the melody was completed, the sound of the words selected partly turns out to have close meaning to time. I was reminded that among muscular resources, money resources and other resources, there is still time resources, which are often forgotten. There are also a tendency to interpret ‘let time decides’ as ‘total submission to time’ and not to manage time patiently. I apologize to Dian AGP, a pianist and the best soap opera music arranger 1997 who had to restrain herself.

Pleasant Entanglement

This instrumental music is in the form of a series of sound comprising passages of the words. I wish the same goes with music sentences outside words verse. In that way, guitar pattern is woven together with horn instruments. All stands on a basic pattern of melody at the end of each verse. Development of that basic melody is commonly found in classical tunes of gamelan, such as Landrang Samiran or the latest one Parisuka by the Late Marto Pangrawit.

The Burial Grounds, My Love

This instrumental music in terms of its verses of words, melody outside the other music sentences are not too far from the general pattern of music melody in Java. Therefore, I need other means as in presenting gudeg rice with table manner in urban cities. Perhaps, the deviation lies only in the meaning of those verses of words outside other musical sentences. For instance, the popularly known verse like witing tresno jalaran suko kulino (seeds of love grow out of frequent meeting or in other words from a past). I change them into dino mburi dinane wohing katresnan-witing tresno ketemu ring dino mburi (the root of a love tree is the future, or say the after life, and so is the meeting point of love).

The Sound Of Orang Asyik

This instrumental music is actually the credo of all music in this album. I do not meant to rebuke the pattern of tunes do-re-mi-fa-sol. I am only angry that as time goes by, it is generally understood that the pattern of do-re-mi-fa-sol is the only pattern of tunes existing in the world. I am not putting down the entire stability of philosophy, ideology and other paradigm considered established, in the way pattern of do-re-mi-fa-sol treated to be established. I only with to offer that it is important to disturb the entire establishment. As this is not a philosophy or politic book, I only disturb the pattern of do-re-mi-fa-sol. Let’s hope that the pattern of do-re-mi-fa-sol is able to represent other entire establishment.

A Prayer at Work

This instrumental is the credo of the basic attitude underlying choice of the words in this musical album. Should you listen to sounds of sentences of the words that resemble the sound of the other musical instruments. Through this music, I hope that God gives me the way to remind teachers in primary school and all professors in the universities that apart from having a meaning, words also contain sound. But perhaps it is not entirely the fault of the formal educators that the present generation always demands to know the meaning of song lyrics. When the lyrics belong to languages they don’t understand, they have a tendency to repel them.

The form of meaning of a series of words music is dedicated to all who regard the awareness to pray and an awareness to work are something serial, not something parallel or even simultaneous.

Be Transparent

This instrumental, particularly in its first four tunes of words melody is general pattern of bass commonly found in Banyuwangi folk music. I imagine a roughness wrapped in gentleness based on that general pattern. Hence, the next pattern of melody of words is born, which in my opinion should be performed by a woman, but with other musical color and rhythm which is very male. Therefore, the form of meaning of this series of musical words should contain the same contrast. Words music or commonly termed as lyrics, in this song means protest to all leaders, but it is protest accompanied by annoyance and not spoken with a feeling of anger. With love…love…love…

Democracy

This instrumental starts with an intention to present a clear and simple atmosphere of the people. I assume that vibraphone is a choice that is not too inaccurate, and so is accordeon. The melody of words music is made to be a repetition that is alike but actually different from each other. People in the politics may refer to them as differences in sound, but we are not going to talk about politics, we are only dealing with entertainment.

Chaos

This instrumental starts from my admiration towards the musicality of words in Goro-goro (Chaos) narration. Coincidentally, the words selected are those sound that complement the melody of words music, or commonly called a song and they can talk about money. In the beginning of the 80’s I read a column, written by Umar Kayam in Tempo that behind a parents’ concern when bringing up their children lies an expectation to be able to gain material benefit when their children grow up and are successful in future. As the voice of Buta Cakil which is very tenor and the other giants in bariton turn to bass section, I need a more flexible music universe to contain them; and it is blues.

Thank you and welcome to the world of sound

Jakarta, August 13, 1998


H. Sujiwo Tejo

Friday, June 29, 2007

Blablabla tentang Yang di Atas

Please forgive me because I don't have enough time to translate Sujiwo Tejo's column that published weekly in Harian Seputar Indonesia every Friday. But I think it's necessary to know or get closer to him throuh his written. So I try to posting all his column by now. Thanks and I hope you all will enjoy those

BLABLABLA TENTANG YANG DI ATAS

Tadinya tulisan ini saya tujukan buat ibu-ibu tertentu. Ibu-ibu yang mendambakan putra-putrinya kelak punya pendapatan yang pasti per bulannya. Tiap akhir atau awal bulan tidak kelimpungan maupun berdebar-debar akan asap dapurnya sebulan ke depan.

Tapi seorang temen ngingetin, ya kalau kayak gitu mah setiap ibu-ibu kepengin. Ya, sudah. Ndak papa. Gus Dur bilang, “gitu aja kok repot.” Ya, saya tujukan saja tulisan ini buat semua ibu-ibu.

Bahwa, punya penghasilan tetap nggak mendorong manusia untuk senantiasa, setiap seperjutaan detik bahkan, ingat Tuhan. Selalu berharap-harap akan uluran tangan-Nya.

Bahwa, orang yang punya pendapatan tetap apalagi dengan segala tunjangannya, akan kerap terjebak dalam formalitas pengingatan Tuhan. Ia mengingat Tuhan setidaknya saat shalat, ke gereja, ke vihara dan sebagainya. Di luar itu Tuhan terlupakan.

Buat apa selalu mengingat-ingat Tuhan kayak kita selalu ingat kekasih? Hari ini setelah demam beberapa hari tiba-tiba anak dinyatakan positif demam berdarah, hari ini juga ia bisa membawanya ke rumah sakit dengan langkah pasti.

Beda dibanding kepala rumah tangga yang tak punya penghasilan pasti. Mau membopong anak ke rumah sakit, makin muncul “wajah” Tuhan yang sebelumnya telah muncul senantiasa. Mungkin sambil bergumam, “Tuhan, aku nggak ada uang. Kau tahu itu. Tapi anak ini adalah titipanmu jua, aku yakin, kau tak akan berpangku tangan. Never!”

Di rumah sakit, sambil membayangkan saat-saat kesembuhan anaknya, mungkin kepala rumah tangga itu akan berkata, “Tuhan, aku sudah nggak tahu lagi akan nyari uang di mana. Tapi aku akan berjalan. Entah ke mana. Bimbing dan arahkan langkah kaki dan hatiku, sehingga perjalanan ini menghasilkan duit buat bayar rumah sakit.”

Begitu dan seterusnya.

Ibu-ibu, bukankah indah memiliki anak yang selalu ingat akan Tuhannya? Yang berdoa secara sungguh-sungguh dan konkret, karena ketakutannya konkret, kecemasannya pun nyata? Yang doanya nggak basa-basi? Dan yang ingat akan Tuhannya bukan saja tatkala di mesjid atau gereja tapi melupakannya begitu berada di rapat kabinet, sidang di DPR maupun tempat-tempat kerja lainnya?

***

Ibu-ibu, kalau sampeyan kebetulan warga Surabaya kali aja pernah diajak melukis oleh Cak Kandar bersama seribuan lebih perempuan. Saya mau cerita, abis peristiwa besar yang belum lama berlangsung itu, saya ketemu Cak Kandar di kota yang sama.

Kaitannya dengan tulisan ini adalah penuturan Cak Kandar, yang dulu dikenal sebagai pelukis bulu ayam, di awal-awal karir keseniannya. Rezeki nggak mulus. Hidup setengah luntang-lantung. Tapi, katanya, justru dengan itu ia selalu ingat Tuhan. Sampai suatu hari, karena rezeki juga masih seret, ia marah-marah kepada kekasihnya…ya Tuhan itu.

“Waktu itu saya betul-betul marah. Sampai keluar dari mulut saya: Tuhan, kalau sampai pameran saya selesai dan Adam Malik (waktu itu wakil presiden) tidak melihat, aku tidak percaya kamu ada!” kisah Cak Kandar. Keesokan harinya ia merinding. Telepon yang ia angkat adalah dari protokol wakil presiden yang memberi tahu Adam Malik akan melihat lukisan Cak Kandar.

Bisa saja sih, kerja kantoran, dengan pendapatan fixed, tetap bakal membuat seseorang religius dalam arti mengingat Tuhan tak henti-henti. Tapi biasanya setelah melalui “tamparan” peristiwa nyata yang mau nggak mau bikin orang jadi religius.

O ya…sebelum berlanjut…agar tak rancu…Saya ingin bedakan religi dan religiusitas, yang saya sarikan dari pendapat almarhum Romo Mangunwijaya.

Religi itu agama. Religiusitas itu rasa kebertuhanan setiap saat. Orangnya disebut religius. Orang yang religius kemungkinan besar punya agama. Apapun agamanya. Tapi orang yang beragama belum tentu religius karena misalnya, ia cuma ingat Tuhan ketika shalat atau ke gereja, dan abis itu lupa Tuhan sehingga tingkah laku kesehariannya (ya korupsinya, ya tipu-tipunya, ya culas-culasnya) tak ada kaitan sama sekali dengan sajadah maupun gerejanya...

Kembali ke laaapt…eh ke topik. Ya, harus ada tamparan peristiwa konkret yang membuat orang-orang kantoran, yang beragama tapi tak religius, itu yakin bahwa Tuhan betul-betul ada dan nyata.

***

Dua pekan lalu seorang pegawai, staf senior saya, yang berkantor di kawasan Kuningan mengalami kecelakaan kecil di jalan raya. Dia bermobil, bersama teman sekantornya. Dan lawannya adalah pengendara sepeda motor dengan helm menutup wajah penuh-penuh.

Kecelakaan itu tak membuat berhenti kedua pihak. Tapi, karena kesal, ketika mobil kembali melaju, si bapak ini mengumpat abis pengendara sepeda motor. Temannya bahkan mengingatkan jangan sampai berlebihan nyumpahin. Masih juga bapak ini mengumpat, bahkan sampai nyumpahin agar pengendara sepeda motor itu mati.

Sesampai di kantor, telepon berdering. Yang ngangkat teman bapak itu. Berita duka. Ya, tak jauh dari kecelakaan tadi si pengendara sepeda motor kemudian terjatuh. Mati. Dan, ternyata, ia adalah anak si bapak itu sendiri.

Terserah ibu-ibu, tetap berkeinginan anak kelak punya penghasilan tetap dan biarkan religiusitasnya datang setelah “tamparan” peristiwa? Atau biarkan anak punya cita-cita nggak jadi orang kantoran? Musim liburan, musim yang penuh waktu buat ngobrol dengan anak-anak.

*H Sujiwo Tejo, Dalang Edan

Saturday, April 21, 2007

Interview with Jason Tejakusuma

It was pleasure for me to have an interview session with Jason Tejakusuma in February 2007. Thanks to you, Jason!
I grabbed from your blog:

It is quite a special occasion when a full-fledged dalang (Javanese shadow puppet master) joins us in the studio. Sujiwo Tejo - singer, actor, writer and of course dalang - talks with Jason about two of his songs "Nadian" and "Hujan Deras" in our longest podcast to date. Not only will you learn something about Mas Tejo and his music, you will also learn a thing or two about Javanese culture. Enjoy.

If you want to hear my interview, click http://equinoxdmd.com/podcast.html

Monday, December 04, 2006

Dari Balik Layar KabaretJo

KabaretJo yang direncanakan untuk hadir tiap bulan, menghadapi kondisi kritisnya. Yang pertama, edisi kedua bagi sebuah pertunjukkan merupakan momen yang menentukan, apakah orang akan datang dan menonton terus, atau mereka kecewa dan tidak mau menonton.

Yang kedua, bulan Oktober ini adalah bulan puasa, banyak acara kantor atau acara keluarga yang diselenggarakan di bulan Ramadhan ini. Belum lagi jam tayangnya yang berhimpit dengan jadwal sholat Tarawih.


Namun kalau memikirkan dari "angle" itu nggak akan selesai-selesai kita membahasnya, dan lagi hanya akan menghasilkan keragu-raguan. Oleh karena itu Tim Balik Layar KabaretJo pantang mundur segera menyiapkan pertunjukkan yang kedua di bulan Oktober nanti. Tentunya ada beberapa perubahan yang "harus" dilakukan, karena edisi pertama yang lalu sebetulnya edisi yang penuh dengan tanda tanya bagi tim balik layar.


Pertanyaan seperti format acara, ekspektasi penonton, durasi, jenis becandaan, garis cerita (storyline) dan sebagainya - yang setelah pertunjukkan pertama lalu sebagiannya telah terjawab. Maka, di edisi kedua KabaretJo ini judul edisi, seperti "Ibumu-Ibuku Ibu-Ibu" sudah tidak ada lagi. Biar penonton saja yang memberi judul di hati masing-masing.

Lalu jam tayang kita tetapkan jam 20.00 saja, biar yang kantornya jauh bisa sempat datang tanpa ketinggalan. Bintang tamu tetap akan kita undang, hanya perannya dibuat lebih enak.

Dari semua perubahan dan penyesuaian, pokoknya tim balik layar punya satu tujuan di kepala masing-masing, yaitu bagaimana penonton puas dengan setiap pertunjukkan. Walau kita juga sadar, kepala boleh sama hitam tapi otaknya ada yang coklat, ada yang abu-abu dan ada juga yang ikutan hitam hehehe.....

Sebagaimana bunyi Lirik Theme Song Kabaret Jo :

Pertama s’lamat datang
Yang kedua slamat melongok
Perhelatan gado-gado Ngomong, joged, lagu-lagu Campur
haha hihi Cerita kisah kita bersama
Haha haha suka Hihi hihi sedih Hihihi
lho koq suka Hahaha lho koq sedih
Senangnya… Sedihnya…
Kar’na semua punya haha… hihi…

[Jadi yang pertama selamat datang, yang kedua s'lamat melongok]
...dan Ketiga mohon ampun
Kalau ada klira kliru
Kelirunya omongan hohoho….
Keliru tingkah…
Excuse me....

REFF:
KabaretJo kabar kita all of us
Kabar not from your koran televisi
Nor radio Nor majalah
Nor internet Nor mana jua….

Just really only di sini… di sini…
Di ruang-ruang setiap hati
Setiap yang hadir

RAP:
KabaretJo, ketawa bareng Tejo
Ketawa sendirian itu orang gila
KabaretJo, ketawa bareng Tejo
Ketawa sendirian itu orang gokil
Bareng-bareng YES! Masing-masing NO!
Bareng YES! YES!
Bareng-bareng YES!
Masing-masing NO!
Bareng YES! YES!

Nor mana jua….
Just really only di sini… di sini…
Di ruang-ruang setiap hati...
Setiap yang hadir....

Sebagai penutup tulisan ini, khusus bagi penggemar Mas Tejo (KPST), silakan download lagu theme song tersebut di : http://www.divestory.info/kabaretjo/kabaretjo.mp3

Satu Lagi dari Sujiwo Tejo

Pada tanggal 13 September 2006 lalu, EKI Production kembali menggelar sebuah pertunjukan inovatif yang memadukan musik-lagu, teater dan tari hingga talkshow dalam satu kemasan.


“KabaretJo” (Ketawa Bareng Tejo) adalah nama program tersebut. Dalam durasi tidak kurang dari 90 menit tersebut, KabaretJo menggali dan menyajikan sisi lain Sujiwo Tejo yang diatas panggung berperan sebagai duda beranak satu, yang menjadi anaknya adalah Nala.

Buat Nala, sebelumnya juga menjadi anak Sujiwo Tejo pada pertunjukan musical Battle of Love. Sebagai seorang ayah, Sujiwo Tejo jauh dari otoriter dan galak. Sebaliknya, Nala malah sering iseng kepada Ayahnya, terutama kalau ayahnya sedang mendekati perempuan. “Hubungan orangtua antara saya dan anak saya, dibuat lebih terbuka dan demokratis”, jelas Sujiwo Tejo.


Selain berakting, Sujiwo tejo juga menyanyikan lagu yang sempat dipopulerkan Frank Sinatra, yaitu Fly Me to The Moon. “Saya sangat suka lagu ini, tapi juga takut tiba-tiba di panggung malah lupa liriknya”, kata Sujiwo Tejo di kala persiapan. Untunglah ketika pentas, semua berjalan mulus. Lebih dari 150-an penonton merasa puas,karena pertunjukan malam itu mampu memberikan emosi yang beragam.

“Saya terkesan dengan wawancara dengan Kepala Harian Badan Narkotika Nasional , Komisaris Jendral Togar Sianipar. Terutama ketika ia menyatakan mengenai keponakannya yang ternyata juga terkena Narkoba. Sangat menyentuh”, kata Andy, seorang praktisi Iklan.

Malam itu, selain Komisaris Jendral Togar Sianipar, KabaretJo juga menampilkan Maudy Koesnady, Takako Leen, dan EKI Dance Company. Tantri, seorang penonton setia EKI mengaku sangat senang dengan bagian tari, yang dibawakan oleh Takako.

“Saya dapat merasakan emosi dan benar-benar merasakan indahnya tarian tersebut”, katanya.
Buat Anda yang tidak sempat menyaksikan KabaretJo edisi perdana, jangan bersedih. Karena tanggal 12 Oktober 2006 yang akan datang, KabertJo kembali akan digelar.

So Don’t Miss it !