Showing posts with label album musik. Show all posts
Showing posts with label album musik. Show all posts

Thursday, August 16, 2007

REVIEW KONSER YAIYO (2)

PRESIDEN YAIYO Bertemu Rakyat
Mengajak Damai dan Tersenyum Ramai Ramai

JAKARTA, YAIYO – Harapan masih ada, ucap lantang Presiden YAIYO di hadapan masyarakatnya. Masih akan ada (Harapan), tegas Presiden YAIYO, yang mendapatkan sambutan riuh dari masyarakat yang memenuhi lapangan alun-alun ibukota, Jakarta, kemarin siang.

Permintaan sang Presiden, agar semua elemen masyarakat tetap semangat, terus berjuang tapi tetap santai. Janganlah saling membenci, jangan saling menjatuhkan, janganlah memelihara permusuhan. Semua masalah, ucap Presiden, adalah milik semua. Bukan hanya milik golongan, keluarga, kalangan tertentu saja. Maka, lanjutnya, semua pihak tanpa terkecuali harus saling bantu membantu,melepaskan diri dari masalah tersebut.

Presiden meminta jajaran para pembantunya, para menteri kabinet YAIYO, untuk hati-hati jangan sampai mereka terlena di laut tangis rakyat. Hati-hati jangan mereka haha hihi di laut keringat rakyat. Pesan Presiden dengan tegas, sambil mengepalkan tangan Presiden berucap lantang, "Awas awaslah di gunung kesabaran rakyat". Para menteri hendaknya, mawas dirilah di gunung kesabaran rakyat!

Sementara itu, ternyata sang Presiden juga adalah pelukis. Ia pun tak ragu menjual lukisan-lukisan potret dari berbagai kalangan, dan dari situ dengan jujur dan tegas Presiden menyatakan,"Bagi mereka yang membeli lukisan saya memang karena suka, sungkan, nggak tega maupun terpaksa, terima kasih sebesar-besarnya. Merekalah produser eksekutif album rekaman saya ini."

Seorang Presiden, ketika masih aktif, menghasilkan album rekaman? Betul sekali, ini album rekaman musik. Musiknya campur sari, gado-gado, diulek jadi satu ditaburi berbagai bumbu yang kemudian diguyurkan sedikit air di atasnya….

Mungkinkah seorang Presiden menghasilkan sebuah album rekaman? Sang penata musik mengungkapkan, ia seolah seperti lahir kembali menjadi seorang menteri. Ia merasa begitu terhormat ketika diberi tanggung jawab mengatur dan "mengelola" musik untuk Presidennya. Dan ia kemudian memang diberi wewenang penuh oleh sang Presiden.

Dengan wewenang resmi di tangan, sang pengatur musik dengan sigap dan segera, melarang sang Presiden campur tangan urusan musik. Diapun melarang keras sang Presiden melanjutkan kesenangannya memainkan pelbagai alat musik. Cukup bermain trumpet selain bernyanyi, tegas si musisi. Dan sang Presiden pun mengatakan,"Dia (si musisi pengatur musik itu) adalah satu dari hanya segelintir orang yang tidak bisa, tidak sanggup saya marahi…"

Malah si penata musik melangkah lebih jauh, ia pun dengan tegas melarang sang Presiden melakukan rekaman ulang suaranya. Kabarnya, sang musisi mengaku puas dengan isian vocal yang sebenarnya "guide" vokal dari sang Presiden. Menurut sumber yang layak dipercaya, sang Presiden mengikuti begitu saja perintah sang musisi yang amat sangat dipercayainya itu.

Negara Kesatuan Republik YAIYO

Itulah sekelumit kisah dari Negara Kesatuan Republik YAIYO. Negara tetangga kita. Tapi kenapa ini malah menjadi seperti mata acara di salah satu stasiun televisi swasta? Yang pasti, yang tidak boleh melakukan take vokal lagi, untuk mencoba menyanyi dengan "benar" itu adalah sang "Presiden" yaitu Sujiwo Tejo. Mantan wartawan, dalang "kontemporer", rambut ikal panjang, sutradara pertunjukkan teater, penulis, berbadan tidak terlalu kurus, pemusik multi instrumentalis, aktor, pencipta lagu, tertawa keras ngakaknya khas….dan lalu, siapa yang tidak kenal?

Sementara sang musisi bernama Bintang Indrianto. Bassis sejak era trend musik jazz/fusion tahun 1980-an, bergabung dengan banyak grup-grup ternama, sempat menjadi session-player laris untuk show dan rekaman. Kini makin tegas dan jelas, menjadi bassis sekaligus produser musik jazz dengan hasil garapan yang kian diperhatikan khalayak ramai.

Ini adalah cerita seputar garapan album gres dari Sujiwo Tejo, yang bertajuk, YAIYO, album keempatnya. Dan kali ini memang banyak perbedaannya dibanding tiga album sebelumnya. Ia menyanyi bahasa Indonesia sepenuhnya kali ini. Ia tidak lagi mengurusi hingga sektor aransemen. Dan iapun berjuang, berjalan sendirian. Pilihannyapun, bergerilya penuh semangat. Antara lain kelihatan jelas, ia menjual album keempatnya dalam format compact disc ini dari mulut ke mulut, teman ke teman, kerabat ke kerabat.

Dijual dengan bandrol relatif murah, di bawah harga yang umum untuk sebuah produk album musik lokal versi compact disc. Niatnya, biar supaya lebih banyak masyarakat dapat menerima, menikmati dan terhibur oleh album keempatnya ini. Sebuah langkah jelas yang jadi pembuktian ampuh, bahwasanya musik dalam albumnya kali ini memang mengajak rakyat semua bersama-sama menghibur diri. Bukankah menghibur diri juga adalah hak setiap rakyat?

YAIYO Anak-Anak dan YAIYO Kritik Sosial

Menyoal kemasan musiknya, yang digarap seksama oleh Bintang Indrianto, memang beragam unsur-unsur musik dapat terasakan bunyi-bunyiannya. Aneka macam musik dicampur jadi satu, diblend dalam waktu cukup, dan lantas siap dihidangkan! Pada banyak lagu, ada pola melodi dolanan anak-anak, diambil dari berbagai macam etnis, yang menjadi dasar lagu. Tak heran, kalau saja ingatan kita masih baik, kemungkinan telinga kita akan langsung cepat menjadi akrab.

Dolanan anak-anak menjadi fondasi dasar untuk bangunan kritik sosial yang bertebaran di semua lagu karya Sujiwo Tejo kali ini. Menurut sang Presiden eh Sujiwo Tejo, ia melihat sekeliling, lagu-lagu kritik sosial belakangan tak lagi terdengar. Tapi, lanjutnya, bukan lantas kritik harus pedas, menyerang dan mengoyak-oyak. Bukan lagi jamannya saling serang menyerang berapi-api, sudah tidak masanya lagi menyuburkan permusuhan!

Kritik sambil tetap santai, penuh canda, rasanya jauh lebih nikmat. Tidak perlu menampar tapi lebih bijaksana menggelitik saja. Jadi semua pihak bisa tersenyum. Kalau senyum terus disunggingkan, maka kedamaian akan lebih terasa. Damai yok Damai, tersenyumlah ramai ramai….Itulah ajakan Sujiwo Tejo. Bintang menimpali, kritik tapi dengan swing dan blues jadi bakalan tetap sejuk dan nyaman deh….

Kali ini Sujiwo Tejo dikawal oleh Bintang Indrianto berikut para "Kepala Staf Musisi"nya. Seperti Taufan Irianto Makasar, "Kepala Staf" drums. Ada lagi Imam Garmansyah Bandung, "Kepala Staf" keyboard. Kemudian masih ada "Kepala Staf" perkusi kendang dan saksofon. Dan 10 repertoar baru Sujiwo Tejo mengisi album keempatnya, yang sebagian besar telah disiapkan untuk dihidangkan kepada para penonton malam minggu, 4 Agustus kemarin.

Oh ya, malam kemarin itu adalah konser akrab "Sang Presiden YAIYO" di ibukota. Setelah menggaet sukses dalam kesempatan konser di Surabaya lalu Solo dan Malang, lengkap dengan cerita "bonus" berhasil menjual 1000 keping compact disc dalam kurun waktu seminggu saja! Maka kini giliran ibukota Jakarta nan metropolitan yang disinggahi, bukan untuk melakukan "sekedar" temu wicara apalagi menggelar acara kelompencapir, tapi untuk mengajak publik ramai ramai bersukacita bareng, sama sama menghibur diri.

Konser Akrab Presiden Yaiyo ini terselenggara atas kerjasama Semarmesem dengan Toba Dream Family Café, dengan didukung Indiejazz. Tak lupa berkat dukungan dari Otomotion 97,5FM, C n J 99,9 FM dan Pro2 FM 105. Dan turut "bergabung", "panglima" tamu yang tak kalah sohor namanya, Viky Sianipar.

Dan bagaimana kejadian sesungguhnya dari konser Saturday Night itu? Yang pasti, Sujiwo Tejo berkostum putih-putih asyik bergoyang, berjoget, melompat dan tetap tertawa lebar. Aktif mengajak penontonnya terus sukacita, ikut bergoyang. Penonton menimpalinya dengan keplok-keplok tangan berirama mengikuti lagu, atau juga tertawa ramai menyambut guyonan dan sentilan Tejo.

Tejo lantas berganti kostum sarung hijau, lalu sempat bertelanjang dada. Sujiwo Tejo sempat-sempatnya pula memanggil Emha Ainun Najib untuk didaulat membawakan puisi, dan dijawab Emha nggak siap nanti saja. Emha malah digiring Tejo "berdakwah" segala. Lalu juga Jenderal Wiranto yang purnawirawan digaetnya naik pentas, biasalah berpidato sejenak dan bilang tidak sedang berkampanye, lalu mengalunlah lagu `Tuhan'nya Bimbo oleh beliau. Para musisi mengiringi sangat jazzy dan "usil", jenderalpun menebar senyum.

Di deretan penonton masih ada Sukardi Rinangkit dari Soegeng Sarjadi Syndicates, ada wakil-wakil dari petinggi Negara ini, ada beberapa artis seperti Sita RSD hingga Inggrid Wijanarko dan Sumita Tobing. Lalu tentu saja terselip puluhan fans "fanatik" Sujiwo Tejo, ada yang datang dari Bogor, Bekasi bahkan Tangerang dan Serang!

Sang "Presiden YAIYO" tak sanggup berkata-kata lagi hanya bisa kembali menebarkan senyum lebar dan tertawa ngakak khasnya. "Panglima" Bintang Indrianto juga hanya melempar senyum, begitupun halnya dengan para "kepala staf musisi" lainnya. "Panglima tamu" Viky Sianipar, notabene dia juga adalah sekaligus pemilik tempat pertunjukkan tersebut, dengan baju "pinjaman" dari sang "Presiden YAIYO" juga hanya dapat tertawa dan sibuk menyambut uluran ucapan selamat para penonton.

Sayangnya, acara sukses begini ternyata luput dari perhatian teman-teman wartawan, baik itu dari kalangan media cetak maupun media elektronik. Kemungkinan dikategorikan sebuah acara biasa yang dianggap tidak penting untuk disaksikan. Sangat biasalah, untuk jenis musik-musik "pinggiran" atawa musik segmented, sebuah pola pandang yang selalu dipelihara terus jaman ke jaman. Tema sentral penampilan Sang PRESIDEN dengan musik jazz, agaknya bukanlah sesuatu yang menarik. Apalagi hanya seorang "PRESIDEN YAIYO" yang nge-jazz, nge-blues, nge-progressive....

So, what's next, Mr. President? Well, anjing menggonggong kafilah jalan terus, malah ngebut....Di depan mata, menurut juru bicara kepresidenan Yaiyo, ada jadwal menyinggahi lagi beberapa kota bahkan tengah digodok kemungkinan Presiden YAIYO melakukan "perlawatan" ke Sulawesi, terutama Makassar dan Donggala dalam waktu dekat ini. Menurut sang jubir, Presiden sangat berkeinginan menjumpai rakyatnya dimanapun berada, agar supaya semuanya bisa "berjuang tapi tetap santai, bisa tetap tersenyum ramai-ramai, karena harapan masih ada…." /dM

Wednesday, August 15, 2007

REVIEW KONSER YAIYO (1)

Buat teman2 yang tidak sempat datang menyaksikan aksi Sujiwo Tejo dkk., berikut ini adalah salah satu review Konser YAIYO dari Sujiwo Tejo. Terima kasih mas Fahroni atas perkenannya mengambil review buatan mas. Buat teman2 penggemar Sujiwo Tejo, bolehlah berkunjung ke website mas Fahroni: www.fahroniarifin.com. Asyik website-nya....:)
Kalau ada teman2 lain yang juga bikin review, silakan kasih info ke saya, nanti saya hubungi untuk mempublikasikannya juga di blog ini.


NONTON SUJIWO TEJO LAGI
by Fahroni Arifin
(http://fahroniarifin.com/nonton-sujiwo-tejo-lagi.htm)


Karena kesepian ditinggal ‘liburan’ Fifi & Zidan ke Bandung selama 2 minggu, Sabtu malam saya cari-cari acara. Beruntung ada launching album terbaru Sujiwo Tejo, ‘YAIYO’, di salah satu kafe di Tebet. Sudah lama saya tidak pasang radar atas seniman satu ini meski album pertamanya masih sering saya putar. Perkenalan saya dengan lagu-lagu Sujiwo Tejo dimulai sejak SMA, saat album pertama ‘Pada Suatu Ketika’ keluar. Waktu itu diantara teman main SMA cuma saya pendengar Tejo. Ia memang artis yang pasarnya segmented dan tidak populer dikalangan generasi Pop. Dan padatnya aktifitas saat kuliah mengalihkan pantauan saya atas album-album berikutnya.

Karena tidak mengikuti evolusinya, saya tersentak dengan ekspresi dan eksplorasi Tejo di album terbaru ini. Ia menunjukkan kebebasannya yang liar, hampir seluruh lagu berbalik menentang selera umum. Lewat jalur indie, album terbaru ini diproduksi swadaya dan diedarkan dari mulut ke mulut dengan harga yang hampir BEP, jelas nekat. Ini hiburan untuk kelas bawah jadi harus murah, katanya. Ia tidak kompromi dengan label besar yang biasanya mengatur-atur isi dan nilai sebuah album. Ketika seniman atau artis lain kehilangan jati diri dan idealismenya seiring kesuksesan, Tejo malah bersikap sebaliknya. Awalnya saya pikir ia sudah kaya dari hasil main film atau ngelukisnya sehingga nggak butuh duit dari nyanyi, ternyata nggak juga. Ceplas-ceplos dia bilang masih sulit mendanai tur gerilyanya.

Sangat jauh dengan album pertama yang kontemplatif dengan syair Jawa bermakna dalam -meski beberapa lagu kocak dan nyinyir khasnya Tejo-, ‘YAIYO‘ cenderung emosional dan literal. Semuanya tentang kritik sosial yang dibawakan pedas dan tanpa kalingan (terhalang). Ia bahkan menyebut ada satu lagu yang kalau dinyanyikan Live akan menyebabkan revolusi, akhirnya dalam sesi malam itu lagu tersebut hanya diputarkan rekamannya. Ada-ada saja, tapi itulah Tejo, seniman multi talenta yang berandalan dan membebaskan diri dari ikatan-ikatan.

Mungkin karena tidak dibayangi tuntutan label, album ini digarap dengan sebebas-bebasnya. Bintang Indrianto, bassis ternama yang dipercaya menata aransemen, secara liberal memasukkan bunyi-bunyian dari beragam suasana dan etnis. Diaduk senikmat kopi-karamel-krim-decaf yang saya sruput malam itu. Kabarnya Sujiwo Tejo selaku pemilik album tidak boleh melarang atau mencampuri arahan Bintang. Selain itu terlibat juga Viky Sianipar, musisi muda yang fokus pada musik etnis-kontemporer, menambah keragaman. Hasilnya adalah album yang merdeka baik musik maupun isinya.

Kalau Anda seperti saya yang tidak mengikuti metamorfosa Tejo, akan butuh waktu untuk beradaptasi dengan album ini. Karena saya yakin selera semua fans Tejo, terlayani oleh album pertamanya. Tapi bagaimanapun, album ini justru menunjukkan ekspresi Sujiwo Tejo yang sebenarnya, hanya masalah waktu sampai fans sejatinya menyukai. Dan sebagai produk budaya, album ini berada pada level tersendiri yang layak diapresiasi. Untuk mendapat hidangan yang lezat, kadang kita harus belajar melepas ego dengan tidak mendikte seniman atas karyanya dan menerima suapan apa adanya.