Showing posts with label sujiwo tejo. Show all posts
Showing posts with label sujiwo tejo. Show all posts

Thursday, November 15, 2007

INVITATION FOR YOU ALL

Watch Sujiwo Tejo's performance in
Wayang Kulit & Wayang Orang Show
with the music from tradition & modern music instrument
(gamelan & band)
SEMAR MESEM
by Sujiwo Tejo - Dalang Edan
Saturday - 2007, Nov 17
4 & 8 pm
(16.00 & 20.00 wib)
at
Gedung Kesenian Jakarta (GKJ)

Saturday, September 15, 2007

CINTA

Kali ini soal cinta. Soal sejuta rasa. Begitu kalau pinjam syair lagu mbak Titiek Puspa.

Tapi mbak “nenek genit” itu emang bener sih. Apa lagi coba yang lebih sejuta rasa ketimbang cinta? Saking sejuta rasanya, tak bisa cinta itu dilukiskan dengan kata-kata. Pun tak bisa dikatakan dengan sejuta lukisan.

Pernah saya mimpi. Suatu hari, entah kapan ya, kalau berkesempatan bikin teater lagi kayak dulu-dulu, saya akan bikin adegan begini:

Di sebuah kafe, seorang perempuan yang lagi getol-getolnya pada soal filsafat dan politik, jengah. Ngambek dia. Pasalnya, band kafe membawakan tembang cinta melulu. Dari petang sampai larut.

Perempuan itu memberesi tasnya. Menjelang beranjak ia protes pada pacarnya, “Kenapa sih dari petang tadi orang nyanyi lagu cintaaaaa melulu. Bahkan sejak sebelum Masehi..”

Sang pacar menjawab sekenanya, “Emang dalam hidup ini ada lagi yang lebih penting ketimbang cinta?”

Meski dijawab asal, di luar dugaan, perempuan itu tak jadi pulang. Perempuan itu (gambarkanlah rambutnya luruh sepunggung, hitam kehijauan oleh cahaya kafe, putih matanya senantiasa berembun) tak jadi pulang.

Ia tinggal di kafe itu sepanjang masa. Mempertimbangkan lagi penting atau tidaknya filsafat dan politik. Perlu atau tidaknya mengikuti berita pencalonan mbak Mega sebagai presiden oleh PDI-P. Manfaat atau tidaknya menunggu-nunggu siapa calon dari Golkar. Dan sebagainya. Dan sepanjang masa pula perempuan itu mendengarkan cuma tembang-tembang cinta di suatu kafe di pusat politik.

***

Gita-gita cinta terus disenandungkan. Sepanjang abad. Tapi cinta tak kunjung dimengerti. Orang selalu ingin mendengar penjelasannya lagi. Ingin lagi. Lewat drama, lukisan, sastra termasuk yang paling banyak adalah lewat musik.

Belum lama ini saya main-main ke tempat sesama orang Jember, Anang. Ke studionya. Kawasan Pondok Indah. Eh, ternyata dia juga lagi mixing album barunya yang nggak direlease dalam bentuk cd maupun kaset. Duet dengan Yanti (KD). Ternyata juga soal cinta. Udah rampung kelihatannya. Siang-siang di suatu gardu Satpam di Ciputat, saya mendengar tembang duet cinta itu dari radio Bens.

Pasti nanti ada teman-teman pemusik lain yang masih ingin share soal cinta. Dan pasti masyarakat belum puas juga. Mereka diem-diem akan terus memohon para seniman membuat tafsir baru perkara sejuta rasa ini. Dan pasti para seniman tak akan bisa tuntas serta final menjelaskannya.

Bagi saya, cinta memang tidak bisa dijelaskan. Cinta berbeda dibanding sepeda motor, negara, Borobudur dan lain-lain. Semua bisa didefinisikan. Semua bisa dijelaskan but love...

Paling-paling perkara sejuta rasa ini cuma bisa ditandai gejala-gejalanya, tanpa bisa kita jelaskan tuntas definisinya. Bagi saya, kalau putera atau puteri ibu ditanya kenapa mencintai seseorang, apa alasannya, dan mereka bisa menjawab tuntas, berarti mereka tak menampakkan gejala cinta. Bukan cinta itu namanya. Itu itung-itungan.

Salah satu hiburan saya kalau nonton kabar kriminal di televisi adalah menyimak ekspresi mata salah seorang pasangan, jika pasangannya diborgol oleh polisi entah gara-gara narkoba, nyolong duit dan lain-lain.

Pasangan itu biasanya membela mati-matian. Sebagian, kayaknya, karena yang sedang diborgol itu merupakan tulang punggung ekonomi pasangan. Ini juga itung-itungan. Bukan cinta.

Tapi, yang biasanya saya terhibur, ada juga yang membela mati-matian bukan lantaran sumber daya duitnya diborgol polisi. Itu agak bisa kita raba-raba dari nyala matanya di kamera. Dia membela dan tidak tahu alasannya membela. Sama halnya dia jatuh cinta pada yang diborgol itu tanpa tahu alasannya. Pokoknya cinta aja.

Ibu-ibu, karena tak ada yang tiba-tiba di dunia, termasuk tindak kriminal, pasti dulu-dulunya ketika awal pacaran sudah ada gelagat kriminalitas itu pada calon pasangan. Pasti keluarga yang anggotanya dipacari oleh orang yang punya potensi kriminal itu tak setuju. Pasti dia berjuang mati-matian untuk tetap bisa pacaran ma dia, terlepas keluarganya setuju atau tidak. Seru!

Itu yang menghibur saya. Masih banyak cinta di muka bumi ini. Dan nyata.

***

Ibu-ibu yang saya hormati, semuanya, yang berambut panjang maupun pendek, kemarin saya ke sebuah tempat yang sudah lama tidak saya kunjungi, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta. Ternyata saya bertemu senior saya, pelukis Sri Warso Wahono dan Syahnagra.

Dari situ saya dapat kabar duka. Seorang senior seniman sedang stroke di kota “S”. Sudah tak bisa mendeteksi sahabat. Dulu dia dikenal sebagai perayu ulung dan banyak banget pasangannya. Mas Sri Warso wanti-wanti, agar kita semua inget masa tua, suatu masa yang datangnya cepat tapi sangat halus sampai kita tak merasa tau-tau udah tua dan stroke.

Saya mendebat. Kalau kita terlalu hati-hati demi masa tua, nggak makan ini, nggak makan itu, nggak ngrayu ini nggak ngrayu itu, bukannya kita jadi stres juga dan akhirnya stroke juga.

Syahnagra punya jawaban dahsyat, yang mungkin berguna juga buat ibu-ibu lebih-lebih untuk bahan renungan di awal puasa ini. “Tidak usah takut ngadepin masa tua,” katanya. “Hidup wajar saja sekarang. Nggak usah ketat pantang ini-itu. Yang penting ada orang yang mencintai kita. Masa tua kita akan tenang.”

Ibu-ibu, maaf nih, suami cinta Ibu nggak sih? Atau sekadar “asal tidak cerai” dan “demi anak-anak”?

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan – http://www.sujiwotejo.com
*tulisan ini telah diterbitkan di Harian Seputar Indonesia, edisi 14 September 2007

*Dapatkan SMS berlangganan dari Dalang Edan Sujiwo Tejo tentang cara berbagai hal dipandang dari dunia pewayangan. Caranya, ketik reg pde1, kirim ke 9388, Tarif Rp 1.000/SMS. Apabila Anda ingin berhenti, ketik unreg pde1, kirim ke 9388

“…Letakkan Kepalamu di Bawah Telapak Kakimu...”

Waktu nyantri, saya suka sajak-sajak sufi. Dekat sekali sih ama pedalangan. Saya suka penggal syair Jalaluddin Rumi:

…tangga menuju langit adalah kepalamu…
maka letakkanlah kepalamu di bawah telapak kakimu…


Saya tafsir sekenanya. Seingat saya, jalan ke Tuhan ya pikiranmu itu. Lalu, paradoksnya, taruhlah pikiranmu di bawah perbuatanmu. Lakukanlah apa saja. Asal diniatkan buat Tuhan. Jangan (terlalu) pakai nalar. Kau akan ketemu Tuhan.

Tapi menginjak SMA, guru agama bilang, beragama mbok pakai akal. Jangan cuma ikut-ikutan. Termasuk berpuasa.

Mulailah saya pakai banyak pikiran. Artinya harus ada jawaban buat “kenapa” pada setiap tugas peribadahan. Kenapa kita puasa? Karena perut ibarat mesin, perlu istirahat.

Masuk akal. Lingkungan saya di Situbondo ada lima pabrik gula. Semuanya istirahat tiap enam bulan sebelum musim giling tebu. Tapi kok ada juga yang nggak butuh istirahat tuh. Paling gampang jam dan tanggalan di laptop. Laptop mati atau nggak, nggak ada urusan. Dia hidup terus seperti jantung.

O, nggak ding. Puasa itu untuk menggladi solidaritas sosial. Kita harus sanggup merasakan lapar. Jadi punya kasih sayang pada orang papa. Lho, tapi kalau ini tujuan puasa, lantas gimana puasa orang yang sehari-hari telah miskin dan lapar?

Sebentar…Kalau gitu, bisa aja puasa untuk latihan nahan diri. Ah, ini lebih masuk akal. Tiap hari ada produk baru apalagi handphone. Sekarang sudah 50-an juta orang Indonesia pakai handphone. Sudah itu keinginan beli handphone-nya lebih tinggi dibanding Himalaya. Makanya Nokia juga pernah launching produk barunya di sini, bukan di negara-negara kaya. Orang-orang kitanya pakai antre lagi kayak mau masuk ujian perguruan tinggi.

Belum baju. Belum mobil. Belum aksesoris. Wah... Tiap detik ibaratnya semua itu menjibuni kita. Sampai kita megap-megap diperbudak oleh nafsu membeli. Daya tahan kita ditagih buat membeli yang perlu-perlu aja. Maka kita perlu puasa buat latihan.

Lho, tapi kalau cuma buat latihan nahan ndak beli-beli, kan nggak usah dengan puasa? Udah aja saban hari, nggak melulu di bulan Ramadhan, kita latihan nahan diri buat beli yang perlu-perlu aja.

Belum perlu main internet sepanjang masa? Ya beli handphone yang nggak pake internet-internetan. Belum perlu motret atau kirim gambar pakai handphone, ya beli handphone yang lugu-lugu aja. Tangan masih kuat? Itung-itung senam, ya nggak usah beli mobil yang pintunya nutup sendiri.

Kalau mau jalan-jalan di internet atau media massa lain, latihan nahan dirilah untuk tak terlena di sana. Kalau bahan-bahan yang Anda jumpai di situ ternyata tak bisa dikaitkan dengan pengambilan keputusan hidup pribadi dan profesional Anda, itu namanya “data”, bukan “informasi”.

Latihan nahan diri untuk menjadi “masyarakat informasi” yang sejati, ndak usah sampai ngombro-ombro jadi “masyarakat informasi yang semu” alias “masyarakat data”, itu sudah puasa yang bagus. Kita tak jadi budak pemodal agung yang menguasai dunia, yang menggembar-gemborkan “masyarakat informasi” tapi sesungguhnya cuma nimbun kita dengan “data-data”.

Jadi, kalau dipikir-pikir, kenapa kita masih perlu puasa Ramadhan? Ternyata, karena tangga menuju langit adalah kepalamu…letakkan kepalamu di bawah telapak kakimu…

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan - www.sujiwotejo.com
*telah diterbitkan di rubrik Frankly Speaking, Area Free Magazine edisi 95 /September 2007

Sunday, September 02, 2007

“Where Have All the ‘Orang-orang Padang’ Gone?”

Saya punya temen. Insinyur elektro. Tapi ia Padang. Tahu kan maksud saya? Yup, ‘tul. Di awal-awal tumbuhnya mal di negeri ini, ketika semua harga jadi pas bandrol, dia punya komentar menarik. “Matilah tradisi tawar-menawar kita,” katanya.

Buat dia, ternyata, tawar-tawaran tak cuma tarik-ulur harga. Lebih mendasar ketimbang itu, tawar-menawar adalah komunikasi. Itulah inti penjajaan produk ketika suatu komoditas belum dipasangi harga pas. Dasar orang Padang, ya?

Tapi saya kemudian seperti dibawanya keluar Sumatera Barat. Bukankah tradisi nego harga juga tumbuh di berbagai penjuru Nusantara? Saya jadi teringat Sumenep pada tahun-tahun SM (bukan Sebelum Masehi tapi Sebelum Mal). Ah, tetapi Makassar juga. Denpasar. Semarang. Yogya. Sala. Bandung. Banda Aceh. Serang. Dan sebagainya.

Pola komunikasi tawar-menawar ini bisa jadi mekanisme penyaring kelas masyarakat. Di kalangan pedagang, mereka yang suka tak menjawab penawaran nekad dan murah, apalagi pakai merengut dan buang muka, sudah pasti ditinggalkan pembelinya. Di kalangan pembeli, ada tempat khusus dalam lingkungan keluarga bagi anggotanya yang lihai menawar.

Sebelum zaman pas bandrol itu, mekanisme tawar-menawar juga bisa dijadikan tolok ukur. Sejauh mana masyarakat, pembeli dan pedagang, masih menyepakati simbol-simbol budaya lokal. Hak-hak khusus semacam prerogatif bagi presiden juga berlaku bagi produk dan transaksi tertentu.

Pedagang pusara dan batu nisan sudah pasti mikir beribu kali buat menjajakan dagangannya. Karena dia tahu masyarakat tak boleh atau pamali menawar jenis produk ini. Masyarakat pedagang kaki lima dalam area wayangan sudah tahu, makanan harus gratis jika buat dalang yang tiba-tiba kelaparan di tengah pementasan.

Anak kiyai, anak pandita, anak tokoh-tokoh agama harus dapat perlakuan harga khusus (anak pejabat tak termasuk). Sering kali kaum pedagang pantang tidak gratis pada darah-daging orang khusus itu. Sama halnya, demi urusan pelarisan, mereka akan pantang pasang harga fixed pada pembeli pertama.

Untung sebagaimana umumnya proses kebudayaan. Semua berputar seperti cakra manggilingan. Orang kembali tertarik mengunjungi pasar-pasar yang pake tawar-ria. Taman Puring di kawasan Kebayoran Baru kian marak. Orang-orang mulai melirik belanja di KRL Jakarta-Bogor. Harganya tergantung waktu dan tempat. Makin sore dan makin dekat Bogor, dagangan kian murah.

Di Pasar Pagi, asal pintar nawar, parfum kabarnya bisa sampai selisih 50 persen ketimbang di mal. Belum lagi di Pasar Uler. Komunikasi lengkap sudah di kawasan sempit ini. Karena selain ada komunikasi mulut, juga ada komunikasi badan saking desak-desakannya manusia. Ini belum lagi kalau kita sebut tempat-tempat serupa di New York, Seoul, Amsterdam dan lain-lain.

Mal emang masih ada. Dan terus kian gede-gedean. Tapi sekarang, sekali-sekali kalau terpaksa pergi ke mal, saya selalu terkenang kata-kata insinyur but Padang itu. Harga-harga final udah terpasang. Komunikasi dengan penjaja paling banter ya senyam-senyum.

Suasananya jadi dingin. Situasinya jadi seperti melihat kumpulan manusia kini. Seseorang berpidato. Khalayak tak memandang yang berpidato. Semua tunduk baca teks pidato yang sudah disebarkan oleh panitia. Pidatonya jadi harga pas. Tak lebih, tak kurang dari naskah yang telah diedarkan seperti bandrol. Ndak asyik.

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan
*Artikel ini diterbitkan di rubrik 'Frankly Speaking' Area Magazine edisi 94/ September 2007

Thursday, August 30, 2007

ADA SAJADAH PANJANG TERBENTANG…(2)

Ibu-ibu, kesanggupan saya pada Seputar Indonesia pekan lalu saya laksanakan kini. Inilah beberapa contoh orang yang tak mikirin diri sendiri dan keluarganya. Contoh orang yang, tampaknya, bahagia disebabkan oleh membahagiakan orang lain.

Ibu Sri Irianingsih (Rian), pendiri Sekolah Darurat Kartini di suatu kolong jalan layang kawasan Jakarta Utara, punya dua anak yang kini sudah berkeluarga dan mandiri. Kembarannya, Ibu Sri Roosyati (Rossy), yang juga bergerak dalam pendidikan gratis kolong itu, punya empat anak yang juga tak bermasalah.

Salah seorang anak Ibu Rian yang telah meraih pendidikan S2, tiba-tiba dapat beasiswa ambil program doktor (S3) ke Inggris. “Padahal baru setahun kerja di departemen pendidikan,” kata Bu Rian. Kelahiran Semarang 1950 ini mencoba menemukan kemungkinan rezeki itu.

“Mungkin rezeki itu karena hal yang saya lakukan sejak tahun 70-an (mengajar tak dibayar, malah kerap jual gelang, kalung dan lain-lain)...Padahal dulu waktu anak saya mau ambil doktor di luar negeri, saya bilang, gak usah. Ambil doktor di sini aja. Emang anak-anak yang kere itu gak perlu sekolah. Emang yang butuh sekolah kamu dewe…Eh, nggak tahunya…”

Sebenarnya Rian bisa mberangkatin sendiri anaknya ke luar negeri. Ada deposito kok. “Itu milik keluarga. Dihibahkan oleh ibu. Tapi untuk anak-anak miskin,” timpal Rossy yang sedang menulis buku. Maksud Rossy adalah keluarga tak mampu di sekitar jembatan Rawa Bebek, yang salah satu alumnusnya bahkan ada yang bisa melanjutkan di tempat bergengsi, Sekolah Internasional Gandhi.

Sekarang ganti, Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA. Puluhan tahun perempuan kelahiran Bone 1958 ini memperjuangkan kesetaraan pria-wanita. Karya-karya tulisnya antara lain Islam Menggugat Poligami (LKAJ, 1998), Potret Perempuan dalam Lektur Islam (Depag, 1999), Pedoman Dakwah Muballighat (KP-MDI, 2000), Perempuan dan Politik (Gramedia, 2005) yang ditulisnya bersama Anik Farida.

Para sejawatnya sering menyebut Siti Musdah “orang gila”, karena tiap hari kerjanya meneliti dan rapat yang gak ada uangnya. “Tapi saya merasa jadi orang yang berguna. Bisa membuat orang (perempuan) lain merasa nyaman, pada saat mereka tertindas,” katanya.

Timbal-baliknya, yang menarik, Bu Siti Musdah mengaku ditolong Tuhan dalam dua hal. Pertama, ia merasa pede aja meski nggak pakai handphone bagus, tas atau jam bagus. Kedua, selalu ada saja teman-temannya yang membelikan jam, tas dan aksesoris lainnya.

Akhirnya ia berkesimpulan, “Semakin banyak yang kita berikan, semakin banyak yang kita dapat. Memang tak harus materi seperti jam. Tapi (kesehatan) keluarga juga. Saya merasa keluarga saya ada yang melindungi.”

***

Ibu-ibu, sudah sekitar setahun saya nggak melakukan ini dalam keluarga: Kalau pas makan bareng anak-anak di rumah-rumah makan, saya minta anak-anak mencuri-curi pandang keluarga-keluarga lain di tiap meja. Mereka saya minta menebak-nebak, keluarga sebelah mana yang cuma mikirin keluargaaaaa terus, dan keluarga meja mana yang punya kepedulian pada orang lain.

Itu bisa tampak dari cara mereka makan. Itu bisa tampak dari cara mereka memperlakukan pelayan. Bisa tampak pula dari raut wajah mereka. Asyik atau nggak. Ini nggak ada hubungannya dengan ganteng atau cantik. Banyak yang rupawan, tapi nggak asyik. Dan sebaliknya.

Saya tahu, keliru menghentikan kebiasaan ini. Jadwal saya kacau balau. Tapi, ya, itu bukan excuse. Mestinya anak-anak terus saya latih. Dan mestinya makin banyak keluarga yang melatihkan ini pada anak-anaknya. Sehingga kelak presiden, gubernur, bupati maupun anggota parlemen yang cuma mikirin keluarganya gak bakal tercoblos. Wong dari pajangan foto aja bisa kerasa kok. Itu kalau kita setia pada perasaan yang terasah.

Mau gak ganteng, mau gak cantik, orang yang mikirin orang lain itu ya fotonya ya sosoknya bawa hawa yang adem. Saya ketemu Ibu Dewi Soedarjo misalnya, adem. Sayangnya ini bukan contoh yang bagus, karena ibu ini cantik. Tapi saya cuma yakin kalau misalnya gak cantik dia akan adem juga lho.

Adem karena mikirin orang lain alias liyan. Lingkungan Darmawangsa Residences di Jakarta menjuluki perempuan 45 tahun ini the power of service. Prinsipnya, minimal 10 persen dari penghasilan harus dikeluarkan buat sesama. “Termasuk kalau anak saya dapat hadiah uang dari neneknya, dia harus keluarkan paling kurang 10 persen,” kata puteri Solo yang beranak tiga ini.

Jadi setiap orang datang minta uang, dikasih?

Dewi mengangguk. “Jumlahnya saja yang tergantung hati saya. Tapi saya jarang menunda. Karena Tuhan juga tidak pernah menunda permintaan saya. Saya banyak dapat berkah dari Tuhan. Itu harus menjadi berkah buat lingkungan,” katanya.
Hasilnya, kalau boleh berkalkulasi dengan Tuhan, rumah yang dibelinya kini di kawasan Cipete tidak angker lagi. Padahal pemilik-pemilik sebelumnya kalau nggak meninggal ya sakit-sakitan. Beberapa dukun telah didatangkan ke tempat itu, termasuk dari Filipina. Mikirin orang banyak ternyata lebih ampuh dari kekuatan dukun.

Wah, dari tadi ibu-ibu ya. Ya udah, saya kenalkan dengan Ahmad Suwandi ya? Dia aktivis Fauna & Flora International. “Eh, pernah suatu siang, tiba-tiba ada orang yang mau membayari hutang saya yang sudah lama banget,” katanya. Dan itu baru secuplik pengalaman anehnya.

*Sujiwo Tejo, Dalang Edan

*Dapatkan SMS berlangganan dari Dalang Edan Sujiwo Tejo tentang cara berbagai hal dipandang dari dunia pewayangan. Caranya, ketik reg pde1, kirim ke 9388, Tarif Rp 1.000/SMS. Apabila Anda ingin berhenti, ketik unreg pde1, kirim ke 9388